Jembatan Kayu Rusak Di Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke
Beritapapua.id - Jembatan Kayu Rusak Di Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke - Jubi

Jembatan Kayu Rusak Di Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke – Jembatan kayu yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat sejak tahun 2015 di Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua kini kondisinya sangat memprihatinkan. Karenanya kondisi kayu yang tidak bisa bertahan, sehingga mengalami kerusakan parah. Sehingga mengkibatkan speedboat tak bisa berlabuh dan Masyarakat harus melewati lumpur tebal. Untuk bisa menyeberang ke beberapa kampung sekitar.

Mengutip Jubi, salah seorang warga Kampung Kaptel, Simson Boyen, mengungkapkan bahwa setiap kali ada musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) distrik. Pihaknya sudah selalu mengusulkan agar jembatan kayu diperbaiki. Namun tak kunjung mendapat tanggapan dari pemerintah setempat. sehingga para warga yang datang dari kota atau kampung sekitar, harus menyeberang dengan melewati lumpur tebal, lantaran speedboat tak bisa berlabuh baik.

Sementara itu, Kepala Distrik Kaptel, Agustinus Way, juga mengakui hal serupa. Agustinus berkata bahwa jembatan tersebut sudah lama rusak dan sering menyulitkan masyarakat ketika akan menyeberang setelah turun dari speedboat. Lebih lanjut Ia juga berharap agar dapat dibangun jembatan beton, agar dapat bertahan. Sebab jika berbahan kayu tak akan bertahan lama.

Baca Juga: Permohonan Pengujian UU Cipta Kerja Sudah Diajukan ke MK

Akses Transportasi Menjadi Terhambat

Jembatan Kayu Rusak Di Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke
Beritapapua.id – Jembatan Kayu Rusak Di Distrik Kaptel, Kabupaten Merauke – Jubi

Rusaknya jembatan yang menjadi penghubung dengan kampung lain seperti Ihalik, Kaniskobat, Boepe, dan Kuemsit menjadi terhambat akibat dari tidak adanya akses transportasi yang menghubungkan. Satu-satunya transportasi hanya dengan jalur air, sehingga kadang masyarakat kesulitan memasarkan hasil bumi mereka.

“Memang satu-satunya transportasi adalah jalur air. Ketika masyarakat bepergian ke kota atau kampung-kampung tetangga, harus menyewa speedboat. Itupun kalau ada tengkulak datang ke kampung untuk membeli. Jika tidak, mereka tak bisa menjual.” Ujar Agustinus.

Sehingga masyarakat dari beberapa kampung itu, hanya bisa menjual daging untuk mendapatkan uang sekaligus dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Memang persoalan mendasar yang dialami masyarakat dari waktu ke waktu adalah sulitnya transportasi. Bagaimana mungkin kami bisa pasarkan hasil, sementara biaya sewa speedboat sangat mahal,” Tambah Agustinus.

Masyarakat Kaptel berharapkan akan adanya batuan dari pemerintah dengan memberikan dukungan dana bagi masyarakat. Sebab kehidupan masyarakat dari beberapa kampung di Distrik Kaptel masih belum menerima sentuhan baik dari pemerintah.