Jika Cinta Menyatukan, Catatan Sipil yang Memisahkan
Jika Cinta Menyatukan, Catatan Sipil yang Memisahkan

Jika Cinta Menyatukan, Catatan Sipil yang Memisahkan – “Tak pernah ku bayangkan secepat ini, aku takutkan benar terjadi adanya. Perbedaan mengalahkan rasa, dan kita menyerah kepada keadaan. Tuhan kita cuma satu, kita yang berbeda, hingga tak mungkin menyatu, cinta yang terluka. Ku terima semua ini sebagai rahasia, biar ku simpan selamanya, kau di hatiku”. Itu sepenggal lirik lagu “Kita yang Beda” oleh Virzha.

Lagu tersebut dilantunkan oleh Virzha, menceritakan tentang kisah cinta dua insan manusia berbeda agama, yang harus merasakan kandasnya hubungan. Karena tak mampu untuk diangkat ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan beda agama, memang masih menjadi polemik di Indonesia.

Hubungan atau kisah percintaan antara dua orang yang berbeda agama, memang sebagian besar akan berakhir pada kata putus. Namun banyak juga yang akhirnya mengalah untuk mengikuti salah satu agama dari pasangannya, agar bisa dicatatkan dalam akte perkawinan ataupun buku nikah. Ini memang merupakan solusi yang paling mudah, namun tidak bagi mereka yang berpegang teguh pada keyakinannya masing-masing.

Lantas mengapa banyak hubungan yang berbeda keyakinan tidak bisa dilanjutkan pada jenjang pernikahan? Ini dikarenakan hukum di Indonesia masih belum mengakui perkawinan yang tidak berlandaskan pencatatan pada agama tertentu.

Syarat Mencatatkan Pernikahan (Perkawinan)

Baca juga: Indonesia, Negara Asia Pertama yang Berlaga di Piala Dunia

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 74 tentang Perkawinan (UU Perkawinan), Pasal 2, menyebutkan “(1)Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.”

Dengan adanya syarat dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya, berarti menutup adanya kemungkinan perkawinan bisa dicatatkan oleh Catatan Sipil tanpa adanya perkawinan yang dilakukan di hadapan salah satu agama tertentu.

Memang sulit pada kenyataannya, perkawinan lintas agama dilakukan di Indonesia. Karenya, banyak dari mereka yang mencoba melakukan penyelundupan hukum. Misalnya, melaksanakan perkawinan di luar negeri. Tapi apakah kemudian perkawinan tersebut bisa dicatatkan pada catatan sipil di Indonesia?

Perkawinan yang dilangsungkan di luar negeri, memang sah jika dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku di mana perkawinan atau pernikahan itu dilangsungkan. Namun, perkawinan tersebut, dianggap sah secara administratif di Indonesia, jika pernikahan tersebut tidak melanggar UU Perkawinan yang berlaku di Indonesia.

Hal ini diatur di dalam Pasal 56 ayat (1) UU Perkawinan yang berbunyi “perkawinan dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara di mana perkawinan itu dilangsungkan, dan bagi WNI tidak melanggar ketentuan UU Perkawinan”

Adanya syarat yang diatur di dalam pasal 56 tersebut, berarti kembali lagi harus melihat Pasal 2 UU Perkawinan, mengenai dasar hukum bisa dicatatkannya sebuah perkawinan di catatan sipil atau KUA.