Kajian Ilmiah Soal Bahayanya Pengaruh Influencer
beritapapua.id - Kajian Ilmiah Soal Bahayanya Pengaruh Influencer - idcloudhost

Influencer merupakan sosok yang dikagumi oleh sejumlah orang lantaran informasi serta kontennya yang dinilai bermanfaat bagi mereka. Kehadirannya dianggap penting lantaran mampu mempengaruhi masyarakat, baik perilaku maupun sudut pandang. Tidak jarang, apa yang dikatakan oleh mereka menjadi bahan pertimbangan para pengikutnya untuk mengambil keputusan.

Misal, seorang influencer di bidang teknologi hendak memberikan pandangannya terhadap sebuah laptop. Berbagai macam merek laptop ia sajikan beserta kekurangan dan kelebihannya. Konten-konten sebagaimana demikian membantu masyarakat untuk kemudian memilih mana laptop yang cocok bagi mereka.

Bahkan, tak sedikit yang kemudian menjatuhkan pilihan mereka pada jenis dan merek yang direkomendasikan oleh influencer tersebut. Namun, apa jadinya jika sang tokoh memberikan pandangan yang cenderung salah? Bahkan, pandangan tersebut dinilai merugikan pihak lain.

Mari ambil contoh salah satu kasus influencer yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Salah satunya adalah beauty influencer, Indira Kalistha. Dalam acara wawancara dengan Gritte Agatha, influencer kecantikan itu mengungkapkan sebuah pernyataan yang kontroversial. Ia dengan percaya diri mengaku tidak mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

Dalam video tersebut ia mengatakan bahwa ia jarang menggunakan masker saat bepergian dan enggan mencuci tangan. Ia lantas mengatakan kondisinya baik-baik saja meski ia menyampingkan protokol kesehatan pemerintah. Sederhananya, Indira hendak mengatakan bahwa ia tidak takut virus corona dan ia baik-baik saja tanpa protokol kesehatan.

Apa jadinya jika ada pengikutnya yang percaya dengan apa yang ia sampaikan?

Baca Juga: Menyambut Kedatangan Vaksin Covid-19 dari China Untuk Diuji Klinis

Kajian Ilmiah Terhadap Pendapat Influencer

Indira adalah satu dari ribuan influencer di dunia yang berpotensi memberikan pengaruh pada masyarakat. Khususnya soal pandangan pengikutnya terhadap suatu isu. Tidak bisa dipungkiri, seseorang tidak akan mampu menjadi influencer jika tidak ada orang yang percaya omongannya di media sosial, terlepas dari kebenaran omongan tersebut.

Seorang profesor dari University of London tengah mengamati fenomena tersebut. Profesor André Spicer merupakan pakar di bidang perilaku organisasional yang biasa meneliti perihal sebab perilaku kelompok. Dalam hal ini, ia meneliti ihwal opini abu-abu influencer yang dengan mudahnya menyeruak dalam masyarakat.

Menurut Spicer, terdapat tiga kemungkinan. Pertama, ia mengatakan bahwa masyarakat secara umum malas melakukan cek fakta soal apa yang dikatakan influencer. Pengetahuan masyarakat yang minim soal apa yang dibicarakan oleh para tokoh itu membuat mereka mudah percaya dengan informasi yang mereka berikan.

Tentu hal ini tidak akan terjadi apabila hal yang dibicarakan oleh influencer tersebut sudah diketahui oleh banyak orang, salah satunya seperti kasus Indira tadi. Namun, tidak bisa dijamin bahwa ada segelintir orang yang percaya.

Kemungkinan kedua, Spicer mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap influencer boleh jadi menandakan bahwa masyarakat saat ini mulai tidak percaya terhadap pakar ilmiah. Hal ini merujuk kepada sebagian masyarakat gemar dengan teori-teori konspirasi. Mereka adalah bukti nyata golongan yang tidak menyukai pendapat pakar dan lebih senang bergumul dengan teori konspirasi yang tak jarang berasal sumber yang tidak jelas.

Kemungkinan ketiga adalah apa yang Spicer sebut sebagai bias kognitif. Kondisi tersebut merupakan momen di mana masyarakat percaya terhadap suatu informasi lantaran mereka sudah terlanjur percaya dengan orang tersebut. Sederhananya, masyarakat pasti memiliki keberpihakan kepada orang tertentu yang mana mereka akan membenarkan pernyataan pihak tersebut.

Menangkal Informasi yang Salah

Akademisi menyebut fenomena tersebut sebagai cherry-picking. Sebuah kondisi di mana seseorang mencari kebenaran hanya dari tokoh atau sumber yang mendukung pandangannya saja, tanpa mencari tahu kebenaran dari pandangannya. Mereka menutup diri dari segala pandangan yang bertentangan dengan pendapatnya.

Spicer mengungkapkan hal ini disebabkan sebagian besar orang merasa gengsi untuk mundur dari argumennya tatkala ia mendapati pendapatnya salah. Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan situasi tersebut adalah, ‘lebih baik mengubah fakta ketika kenyataan tak sesuai harapan’.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menyaring informasi yang benar? Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan membuka pikiran terhadap segala kemungkinan. Jangan menutup diri dari pendapat yang bertentangan dengan argumentasi diri yang sebelumnya sudah dibangun.

Membandingkan pendapat antar tokoh dapat menjadi salah satu upaya untuk mencari kebenaran. Terlebih, tidak semua pendapat tokoh dapat dijadikan solusi dari permasalahan setiap orang. Anda yang paling mengerti permasalahan Anda, maka Anda harus lakukan yang terbaik untuk menyelesaikannya. Lihatlah masalah dari berbagai sudut pandang.