Berbohong
Kajian Islam Kapan Kita Boleh Berbohong

Memang betul bahwa berbohong adalah sebuah tindakan tidak terpuji. Bahkan, berbohong merupakan salah satu sifat orang munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah.”(HR Bukhari no. 2682 dan Muslim no. 59)

Dalil tersebutlah yang membuktikan bahwa berbohong merupakan salah satu sifat orang munafik.

Namun, sebagai agama yang sempurna, Islam membolehkan umatnya untuk berbohong dalam beberapa kondisi. Beberapa kondisi bolehnya perilaku bohong terdapat dalam hadis dari dari Ummu Kultsum binti Uqbah. Beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا

“Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, seseorang bukanlah seorang pembohong jika ia berbohong demi mendamaikan dua pihak yang bertikai. Ibnu Syihab dalam HR. Bukhari no. 2692 menyebut, boleh berbohong dalam tiga kondisi, yakni: peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkara suami dan istri yang membawa kebaikan rumah tangga.

Selain bentuk bohong tersebut, maka berbohong termasuk ke dalam golongan perilaku tidak terpuji. Tidak ada gunanya berdusta lantaran hanya membuat hati gelisah. Sebagaimana hadis dari Al Hasan bin ‘Ali, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200)

Meski Boleh, Dusta Tetaplah Haram

Baca juga: Di Balik Bintang Kejora dan Gus Dur

Meski sejumlah hadis menyebut dusta adalah boleh dalam beberapa kondisi, dusta tetaplah hal buruk. Maksudnya, kalau pun boleh, usahakan jangan terlalu sering. Mari kita lihat bentuk dari dusta yang boleh.

Pertama, dusta untuk mendamaikan seseorang. Misalnya, ada dua orangyang sedang berseteru yakni Budi dan Adi. Agar mereka berdamai, boleh saja kita sebagai pihak ketiga mengatakan,

“Adi walaupun membencimu, dia kadang memujimu dan mendoakanmu,”

Pujian dan doa ini bersifat umum. Mengapa demikian? Karena seorang muslim pasti mendoakan muslim lainnya dalam doa tasyahud akhir setiap salat. Artinya, berbohong dalam kebaikan pun tidak lepas dari kenyataan umum dan bukan dusta yang murni.

Contoh lainnya, berdusta untuk kebaikan hubungan suami dan istri. Misalnya, seorang suami mengatakan kepada istrinya,

“Kamu adalah manusia yang paling aku cintai,”

Perkataan ini maksudnya adalah agar hubungan suami dan istri semakin hangat. Namun, bukankah kita sebagai muslim harus mencintai Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam? Oleh karenanya, meskipun perkataan tersebut boleh, perlu diperhatikan bahwa boleh jadi kalimat seperti itu mengandung unsur dusta.

Dengan demikian, berdusta dalam kondisi yang diperbolehkan tidak boleh terlalu sering. Karena boleh jadi kita tergelincir pada perkataan yang termasuk ke dalam kebohongan besar. Nadzubillah.