Kajian Islam : Mengenal Sumber Uang Haram
Ilustrasi uang haram (foto : istimewa)

Bayangkan, ketika kita memakan harta atau uang haram, banyak dari ibadah kita yang Allah tidak terima. Misalnya, salat dan haji. Bagaimana kita dapat memperoleh berkah dan nikmat Islam jika kita tidak dapat salat?

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Tidaklah Allah terima salat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram).” (HR. Muslim no. 224).

Ghulul menurut istilah adalah adalah harta rampasan perang. Namun, cara memperolehnya adalah dengan mencuri dan bukan melalui pembagian yang sah. Selain ghulul, harta haram memiliki berbagai sumber dan berbagai bentuk.

Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan harta haram ada dua macam. Pertama, harta haram dari pekerjaan atau jual beli. Perlu kita ketahui bahwa hukum bekerja dan jual beli adalah mubah boleh.

Namun, perlu kita pahami bahwa hukum tersebut berlaku asal pekerjaan tersebut tidak melanggar syariat Islam. Misalnya, pekerjaan dengan cara yang zholim seperti mencuri, menganiaya orang, atau bahkan merampas hak orang lain.

Begitu juga jual beli. Perdagangan yang halal adalah yang tidak mengandung unsur riba, ghulul, ghurur atau maasyir. Dengan bahasa lain, perdagangan itu tidak berspekulasi atau berjudi, tidak merugikan orang lain, atau tidak jelas akadnya.

Selanjutnya, harta tersebut haram karena sifatnya atau zatnya haram. Harta haram berdasarkan sifatnya adalah barang tersebut memang berbahaya atau tidak baik. Misalnya, menyimpan narkoba, jual beli bangkai busuk, atau uang dari hasil pekerjaan haram.

Kalau Sudah Terlanjur Punya, Harus Bagaimana?

Dengan harta haram, kita tak boleh bersedekah. Bahwa, bersedekah dengan harta haram maka Allah tidak akan menerima sedekahnya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).“ (HR. Muslim no. 1015). Y

Hadis tersebut menjelaskan perihal sedekah melalui harta yang halal. Maksudnya, harta tersebut berasal dari sumber yang jelas. Misalnya pekerjaan yang baik atau jual beli yang jujur.

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur memegang uang haram?

Pertama, membeli makan dengan harta tersebut memiliki konsekuensi yang besar. Apabila membelanjakan harta haram untuk keperluan pribadi, maka doa kita tak akan terkabul. Sebuah hadis menjelaskan,

يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?“ (HR. Muslim no. 1014)

Baca Juga : Kenapa Patah Hati Sakit? Apa yang Terjadi pada Tubuh Kita?

Selanjutnya, apabila kita bermaksud bersedekah dengan uang haram tersebut, maka upayakan untuk keperluan orang banyak. Atau, jika harta tersebut hasil curian, maka yang terbaik adalah mengembalikannya kepada pemilik harta tersebut.

Misalnya untuk pembangunan kamar mandi umum, untuk pembangunan rumah orang-orang miskin, dan kepentingan umum yang lainnya. Sedekah dengan harta haram bermakna pembersihan harta kita.

Pemilik harta itu tidak boleh memanfaatkan untuk keperluan pribadi. Perihal pahala dan dosa adalah hak Allah. Kita hanya berusaha agar kita tidak terjerumus kepada dosa yang lebih besar.