Kajian Islam: Mereka yang Bercanda atas Musibah
Ilustrasi bercanda sambil tertawa (foto : istimewa)

Indonesia berduka atas tenggelamnya KRI Nanggala 402. Seluruh rakyat Nusantara memberikan belasungkawa serta doanya atas musibah yang terjadi itu. Bahkan, tak dunia pun turut berduka cita.

Namun, masih ada orang-orang ajaib yang tidak tahu bagaimana cara menghadapi sebuah musibah. Alih-alih memberikan doa dan turut berduka cita, mereka malah bercanda atas kejadian tersebut. Bahkan, mengolok-olok keluarga dari korban musibah.

Ini membuka pertanyaan bagi kita semua tentang batasan bercanda. Maka, mari kita amati batasan bercanda dalam Islam dan bagaimana dunia memandang soal bercanda.

Pertama, menurut Sheetal Agarwal, seorang Mental Health Coach dan pembicara di TEDx, bercanda pun punya batasan. Bahwa, tidak ada salahnya membuat lelucon, namun perlu memerhatikan dampak dari hal tersebut. Misalnya, adakah pihak yang terluka dengan lelucon itu?

“Bagaimana jika aktivitas atau tindakan itu membuat orang lain tertawa? Jawabannya sederhana. Bahkan jika itu membuat orang lain bahagia. Jika bercanda dengan mengorbankan seseorang yang terluka secara emosional dan kadang-kadang bahkan secara fisik, itu salah!” ungkap Sheetal, mengutip inet.detik.com.

Kemudian, ia melanjutkan bahwa bercanda harus paham kondisi. Bercanda atas sebuah kemalangan yang menimpa orang lain adalah salah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menikmati atas apa yang menimpa orang lain.

Baca juga : Upaya PB PON XX Papua Untuk Terus Memikat Sponsor

“Dan, kita perlu membawa pengetahuan kita tentang bagaimana menjadi bahagia tanpa menyakiti seseorang. Badut membuat semua orang senang dengan membuat lelucon pada ia sendiri dan bukan pada orang lain. Mengolok-olok seseorang bisa jadi lucu bagi orang lain tetapi tidak untuk orang itu,” imbuhnya.

Bagaimana pandangan Islam?

Doakan Mereka yang Tertimpa Musibah

Islam mengajarkan kita untuk mencintai sesama saudara. Dalam surat Al Hujurat ayat 10 Allah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10).

Mencintai berarti memberikan kasih sayang kepada orang lain. Baik keadaan sulit maupun keadaan bahagia. Umat muslim adalah saudara, maka sepatutnya untuk memberikan belasungkawa kepada mereka yang tertimpa musibah.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang bercanda atas sebuah musibah? Hadis dari Watsilah bin Al Asqa’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah yang menimpa saudaramu. Karena jika demikian, Allah akan merahmatinya dan malah memberimu musibah.” (HR. Tirmidzi no. 2506. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Hadits ini dinyatakan dha’if pula oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy)

Kendati sebagian ulama menyebut hadis tersebut dha’if, namun bukan berarti kita boleh mengejek mereka yang tertimpa musibah. Ini adalah bentuk merendahkan orang lain yang mana merupakan perilaku tercela.

Kondisi ini pula memperlihatkan bahwa ada manusia dari kalangan kita yang memiliki sifat tercela. Sebagian ulama menyebut, perilaku mengejek musibah adalah perilaku orang munafik.