Kalau Sudah Terlanjur Ghibah, Bagaimana?
Ilustrasi Ghibah (foto : istimewa)

Kalau Sudah Terlanjur Ghibah, Bagaimana? – Jika dosa yang kita lakukan adalah dosa kepada Allah, maka bertaubatlah. Maka, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa kita. Meskipun dosa kita sebesar bumi dan langit, atau sebanyak buih pada lautan, Allah akan mengampuninya.

Mengenai hal tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).

Namun, tahukah Anda? Jika dosa tersebut kita lakukan kepada sesama umat, maka lain lagi ceritanya. Ketika kita berdosa kepada sesama saudara muslim, maka dosa itu terbagi dua. Pertama, dosa kepada Allah karena bersikap zalim. Kedua, dosa kepada orang yang kita zalimi.

Dalam hal ini, maka dosa ghibah tidak akan gugur kecuali dua hal. Yakni, setelah bertaubat dan setelah meminta maaf kepada orang yang kita zalimi. Sebelum membahas bagaimana cara menghapus dosa ghibah, mari kita tengok apa itu ghibah.

Ghibah Termasuk Dosa Besar

Hati-hati, bahwa ghibah termasuk dosa besar. Namun, nampaknya banyak sekali orang yang tanpa sadar melakukannya. Bahkan, gemar ber-ghibah. Perhatikan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah engkau apa itu ghibah? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Rasul berkata, Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk orang lain dengar. Sahabat bertanya, Bagaimana jika yang kami sebutkan sesuai kenyataan? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Baca Juga : Safari Ramadhan Agenda Tahunan Pemkot Jayapura Tidak Ada Tahun Ini

Bahwa, ghibah adalah membicarakan hal buruk atau aib orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut. Termasuk dalamnya menyebarkan aib mereka. Ghibah dekat dengan fitnah. Perbedaannya, jika aib yang kita bicarakan sesuai dengan kenyataannya, maka hal itu adalah ghibah.

Jika kita membicarakan sesuatu yang tidak benar tentang orang lain, maka hal itu adalah fitnah. Keduanya adalah dosa besar yang perlu kita waspadai. Jadi kita perlu waspada terkait ghibah. Gosip boleh jadi termasuk dalam bentuk ini.

Menurut sejumlah ulama, taubat saja tak cukup. Ini termasuk dosa yang kita lakukan kepada orang lain sehingga harus mendapat ridha dari orang tersebut.

Terlanjur Ghibah? Wajib Minta Maaf

Bagaimana cara bertaubat dari dosa ghibah? Salah satunya, kita harus meminta maaf kepada orang tersebut. dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu, yang mana beliau mengatakan,”Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka yang mereka zalimi akan menukar seukuran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudian dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa kezaliman pada manusia harus meminta kehalalan dari mereka. Maksudnya kehalalan adalah permohonan maaf. Makna lainnya adalah menukar kebaikan orang yang menzalimi dengan keburukan orang lain.

Terdapat hadis yang menjelaskan bahwa bertaubat dari ghibah cukup memintakan ampunan bagi orang tersebut. Berikut redaksinya,

كفارة الغيبة أن تستغفر لمن اغتبته

“Tebusan ghibah adalah engkau memintakan ampun untuk orang yang engkau ghibahi.”

Namun, dalam kitab al-Maudhu’aat karya Ibnul Jauz, hadis ini termasuk hadis maudhu‘ (palsu). Dengan demikian, kita harus tetap meminta maaf kepada orang yang kita ghibahi.