Kampung Abar
Kampung Abar di Papua Gunakan Sagu Sebagai Sumber Listrik

Menjadi rahasia umum bahwa masih ada sebagian wilayah Papua dan Papua Barat yang tak terjangkau listrik. Termasuk salah satunya kampung Abar Kabupaten Jayapura, Papua. Namun demikian, masyarakat setempat punya cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka.

Dengan arang dari kulit sagu dan sinar matahari, masyarakat Abar menciptakan listrik. Masyarakat yang tinggal di tepi Danau Sentani bagian selatan ini telah mengenal listrik pintar yang ramah lingkungan ini.

Kampung Abar memang terkenal dengan kebiasaannya memanfaatkan sagu. Biasanya, warga mengolah pohon sagu menjadi tepung, batangnya ditokok untuk diambil sari patinya. Dari kegiatan itu, mereka menghasilkan batang sagu sebagai ampas kulit sagu.

Ampas sagu itulah yang kemudian menjadi bahan bakar listrik dengan cara membakarnya seperti kayu bakar. Masyarakat Abar mengolah ampas sagu berupa kulit sagu kering sebagai briket sebagai penghasil listrik.

Baca juga: Pelatihan Pemeliharaan Listrik di Lapangan Kerja

Ada alasan mengapa masyarakat mengolah ampas sagu menjadi briket. Menurut warga, ampas sagu sebagai kayu bakar memiliki api yang kecil dan kurang panas. Berbeda ketika sudah menjadi briket yang mengeluarkan api biru dan tahan lama. Menurut pernyataan warga, briket ampas sagu dapat bertahan 7 jam.

Cara membuat briket atau arang sagu tersebut pun sederhana. Pertama, warga membakar ampas sagu kemudian menyiramnya hingga menjadi arang. Setelah itu, mereka menumbuk arang ampas sagu itu hingga menjadi bubuk.

Bagian selanjutnya yang paling menarik. Masyarakat menyatukan bubuk arang dengan pati sagu dan mencetaknya dengan ukuran tertentu.

Prestasi ini mengundang perhatian sejumlah pihak, misalnya Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Duta Besar Perancis Jean-Charles Berthonnet. Mereka mengunjungi kampung Abar 3 tahun lalu.

Selain menggunakan briket sagu, masyarakat Abar memanfaatkan panel surya sebagai pembangkit listrik ramah lingkungan.

Selain Briket, Kampung Abar Terkenal sebagai Kampung Gerabah Papua

Baca juga: Jangan Tutupi Status Covid-19

Sebelumnya, masyarakat kampung Abar terkenal akan kerajinan gerabahnya. Mereka merupakan satu-satunya penghasil gerabah di tanah Papua. Karakteristik tanah yang unik membuatnya cocok sebagai bahan baku pembuatan gerabah.

Awal, masyarakat Abar hanya menggunakan gerabah untuk mendukung keperluan sehari-hari. Misalnya, untuk memasak atau menyimpan hasil bumi. Sebab, dahulu ada pantangan dan aturan adat dalam membuat gerabah.

Tehnik pembuatan gerabah berasal dari nenek moyang marga Felle yang bermigrasi dari Pasifik. Yang mewarisi budaya membuat gerabah adalah pihak laki-laki marga Felle. Mereka harus membuat gerabah dalam ruangan tertutup tanpa ada yang mengetahui. Proses pembakarannya pun harus malam hari.

Jika tidak, gerabah tersebut akan pecah pada proses pembuatannya. Namun seiring berjalannya waktu, kini perempuan dari warga Abar dapat ikut membantu membuat gerabah.

Adanya pembauran antar suku membuat budaya pembuatan gerabah ini sebagai bentuk persatuan antar marga dan suku. Tak hanya lagi marga Felle saja, namun seluruh suku yang ada di Abar.