Kampung Abar Penghasil Gerabah Dari Sentani
Beritapapua.id - Kampung Abar Penghasil Gerabah Dari Sentani - Detik

Kampung Abar Penghasil Gerabah Dari Sentani – Kampung Abar merupakan salah satu kampung yang berada di kawasan Danau Sentani. Kampung ini dikenal dengan sebutan kampung kerajinan tanah liat atau gerabah yang menjadi satu-satunya tempat penghasil gerabah di tanah Papua. Gerabah atau sempe dari kampung ini pembuatannnya masih dilakukan secara tradisional dengan cara yang masih manual.

Pada umumnya geraba ini difungsikan hanya sebatas untuk kepentingan lokal. Yakni untuk memenuhi kebutuhan peralatan masak atau wadah untuk menyimpan sagu dan air bagi masyarakat. Selain itu, gerabah ini juga biasa digunakan sebagai wadah khusus makanan maupun hidangan yang disuguhkan kepada tokoh adat atau kepala suku.

Baca Juga: Bappenas Pertajam Strategi Pembangunan Papua

Keunikan Gerabah Kampung Abar

Tanah di Abar saja yang memiliki karakteristik yang khas untuk membuat kerajinan tanah liat. Gerabah-gerabah ini dibuat oleh perajin yang memiliki kreativitas tinggi dan ketelitian serta keuletan.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menyebutkan munculnya kerajinan gerabah di Kampung Abar dimulai oleh marga Felle dari suku Assatouw yang bermigrasi dari Pasifik, dengan berlayar hingga tiba di wilayah Papua.

Nenek moyang marga Felle datang dengan membawa tanah liat yang diikat dalam wadah dari pelepah nibung. Ketika bermigrasi, nenek moyang marga Felle tiba pertama di kampung Kayu Batu di wilayah Teluk Humbold, Kota Jayapura. Yang kemudian melakukan perjalanan ke arah Danau Sentani. Ada sebagian yang menetap di wilayah Kayu Batu, hal itulah yang membuat masyarakatnya mulai membuat gerabah.

Dalam perjalanannya, nenek moyang marge Felle berpindah tempat dari satu kampung ke kampung lainnya. Sampai akhirnya di Kampung terakhir nenek moyang marga Felle adalah Kampung Atamali. Hingga akhirnya nenek moyang Felle membuka kampung baru ke arah selatan yaitu Kampung Abar yang hingga kini menjadi pemukiman keturunannya.

Kerajinan gerabah awalnya dibuat hanya oleh laki-laki di dalam ruang tertutup secara sembunyi-sembunyi. Dan pembakarannya dilakukan pada saat malam hari karena ada aturan yang harus ditaati agar gerabah yang dihasilkan tidak pecah dan hancur. Seiring perjalanan waktu, kerajinan gerabah masyarakat suku-suku di Kampung Abar beralih dikerjakan oleh kaum perempuan.