Kangguru Walabi dari Tanah Papua
beritapapua.id - Kangguru Walabi dari Tanah Papua - Adzkia

Kangguru Walabi dari Tanah Papua – Indonesia ternyata memiliki kanguru, salah satu satwa khas benua Australia. Tepatnya di Merauke, Provinsi Papua masyarakat kerap menyebut hewan berkantung ini dengan sebutan Walabi. Kanguru asli Papua ini memiliki tubuh yang cenderung lebih kecil jika dibandingkan dengan kangguru pada umumnya. Dengan bobot tubuh rata-rata sekitar 3-10 kg dan tinggi sekitar 90 cm. Walabi memiliki bulu berwarna cokelat kehitaman dengan matanya yang hitam. Walabi adalah hewan herbivora dengan daun muda dan rumput sebagai sumber makanannya.

Walabi biasa ditemukan hidup secara berkelompok di daerah semak-semak dan padang rumput Papua tepatnya di Taman Nasional Wasur. Seperti Kangguru, Walabi juga menggunakan kantung yang terdapat di bawah perutnya untuk melindungi dan menyusui bayi-bayi walabi. Walabi juga menggunakan kedua kaki belakangnya yang besar dan kuat untuk meloncat dan mendendang.

Menurut para ahli, Walabi adalah hewan asli Australia yang bermigrasi dari Australia ke Papua pada zaman es, 14.000-17.000 tahun yang lalu. Melalui padang rumput yang membentang dari utara Australia hingga di bagian selatan Papua, Ketika daratan Australia dan Papua menyatu. Namun ada anggapan lain yang menyebutkna bahwa seseorang dengan sengaja telah melapas walabi yang dibawa dari Australia kemudian berkembang biak di alam bebas Papua.

baca Juga: Selama Pandemi Berkebun Menjadi Hobi Baru Para Seleb ini

Kerap Diburu untuk Dikonsumsi Dagingnya

Walabi sangat erat dengan kehidupan masyarakat Merauke. Meski termasuk hewan yang dilindungi, masih banyak warga yang mengonsumsi dagingnya. Banyak warga kerap memburunya kemudian menjualnya ke pasar. Sejak dulu, suku Marind Anim sering berburu walabi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka berburu secara tradisional dengan menggunakan tombak dan perangkap. Namun akhir-akhir ini, banyak orang berburu secara berlebihan dan tidak dikendalikan. Sehingga dapat menyebabkannya berada diambang kepunahan.

Oleh sebab itu dikeluarkan aturan dalam berburu. Dimana orang Papua tetap boleh berburu Walabi untuk dikonsumsi sendiri bukan diperdagangan. Alat tangkap pun secara tradisional, misal, panah, dan parang, bukan senapan. Saat ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Merauke melindungi Walabi di beberapa hutan konservasi seperti Cagar Alam Bupul, Suaka Marga Satwa Mbian dan Taman Nasional Wasur. Sebab dengan tetap terjaganya Satwa Endemik ini bisa menjadi obyek ekowisata alami.