Karena Cetak Banyak Uang, Ekonomi Indonesia Merosot Tajam
Ilustrasi not stonks (foto : istimewa)

Indonesia masih resesi. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 masih antara minus 1 persen hingga minus 0,1 persen. Kendati demikian, Kemenkeu menyebut hal ini lebih baik dari tahun lalu.

“Kita berharap sih sebetulnya bisa mencapai zona netral, tapi kita masih mendekati minus 0,1 persen,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengutip liputan6, Selasa (23/03/2021).

Turun atau naiknya pertumbuhan ekonomi bergantung pada kegiatan ekonomi Indonesia. Saat ini, Kemenkeu menilai gairah itu sudah mulai muncul dalam masyarakat Indonesia. Misalnya, perdagangan bahan pokok dan sektor farmasi kian membaik pada tahun 2021.

Kendati ekonomi dunia sedang jatuh, terlebih Indonesia, tahukah Anda Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi yang jauh lebih parah? Hal ini terjadi pada tahun 1960-an. Dan, tahukah apa alasannya?

Krisis ekonomi terparah Indonesia terjadi karena pemerintah mencetak banyak uang. Penasaran bagaimana kisahnya?

Cetak Banyak Uang, Ekonomi Indonesia Terjun ke Jurang

Tahun 1960-an merupakan tahun yang bersejarah dalam dunia ekonomi Indonesia. Periode itu merupakan krisis ekonomi terparah sepanjang sejarah nusantara. Hal ini bermula saat pemerintah mementingkan manuver politik ketimbang keseimbangan ekonomi.

Manuver politik ini terwujud dalam beberapa aktivitas. Pertama, Operasi Trikora pembebasan Irian Barat dari Belanda. Kedua, Operasi Dwikora ihwal kampanye ganyang Malaysia.

Selanjutnya, ada beberapa pembangunan dan program yang termasuk ke dalam manuver politik ini. Misalnya, pembangunan Masjid Istiqlal, stasiun TVRI, Monumen Nasional, dan Stadion Gelora Bung Karno.

Seluruh kegiatan ini membuat pengeluaran negara tidak karuan. Utang luar negeri membengkak seiring berjalannya proyek pemerintah itu. Akhirnya, keuangan Indonesia defisit.

Hal ini semakin parah kala nilai ekspor Indonesia turun dan produktivitas aset rendah. Dalam kurun waktu 5 tahun, keuangan Indonesia terjun bebas ke jurang krisis. Bayangkan, mulanya, defisit negara pada tahun 1961 mencapai angka 42 persen.

Selang 5 tahun, defisit melonjak 4 kali lipat, yakni pada angka 163 persen. Dengan kondisi ini, pemerintah Indonesia harus melakukan sesuatu agar dapat keluar dari krisis ekonomi. Lantas, apa yang pemerintah lakukan?

Pertama, mereka mengambil alih wewenang Bank Indonesia menjadi lembaga pemerintahan. Sebelumnya, Bank Indonesia adalah lembaga Independen. Tujuan dari pengambilalihan wewenang adalah satu: yakni mencetak uang sebanyak-banyaknya.

Baca Juga : MUI: SWAB, PCR dan Vaksin Tidak Membatalkan Puasa

Apa yang terjadi saat pemerintah mencetak uang banyak? Akibat jumlah uang beredar tak terkontrol, harga barang meroket. Indonesia tahun 1965 mengalami hiperinflasi karena tingkat inflasi mencapai 594 persen.

Jumlah inflasi itu 8 kali lebih besar dari krisis moneter tahun 1998. Hiperinflasi itu menyebabkan masyarakat takut menabung karena uang sudah tak ada harganya. Kemudian, banyak mereka yang akhirnya membelanjakan uang mereka karena takut nilainya terus turun.

Selain itu, hiperinflasi merembet ke krisis kebutuhan pokok. Karena harga yang kacau, jumlah kebutuhan pokok menipis. Ini karena banyak warga yang menimbun barang dan harga bahan pokok yang kian meroket.

Berhenti Cetak Uang Adalah Solusi

Untuk menangani hal ini, pemerintah memberikan rakyat sembako setiap bulan. Ini jelas berdampak pada APBN negara. Akhirnya, proyek megah sebelumnya itu mulai merasakan dampak dari ambisi negara. Pemeliharaan infrastruktur terhambat karena kekurangan biaya,

Lalu, bagaimana Indonesia keluar dari jurang krisis ekonomi?

Awalnya, pemerintah berinisiatif dengan menurunkan nilai mata uang Indonesia. Yang awalnya 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Namun, hal ini sia-sia karena bukan itu masalah utamanya.

Permasalahan utama dari krisis ekonomi tahun 1965 adalah jumlah uang yang beredar terlalu banyak. Defisit anggaran terlalu besar karena pengalokasian dana tidak tepat sasaran. Kemudian, ini semakin parah kala pemerintah mencetak uang terlalu banyak.

Jadi, pemerintah mulai memberhentikan pencetakan uang. Hal ini terbukti efektif. Harga barang mulai terkendali, inflasi mulai turun, dan nilai rupiah meningkat. Tahun 1966 dan 1967, grafik inflasi Indonesia turun drastis.

Tentu, prosesnya tidak mudah. Namun, kita bisa melihat alasan mengapa mencetak uang saat mengalami defisit adalah keputusan yang cukup berisiko. Kita juga belajar bahwa ambisi pembangunan pemerintahan juga harus memerhatikan kondisi dan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Bagaimana menurutmu?