Keajaiban Kecil di Wamena, Terdapat Pasir Putih di Atas Bukit
beritapapua.id - Keajaiban Kecil di Wamena, Terdapat Pasir Putih di Atas Bukit - Pesona Travel

Keajaiban Kecil di Wamena, Terdapat Pasir Putih di Atas Bukit – “Meski terletak di ketinggian sekitar 1600 meter di atas permukaan laut, hamparan pasir putih layaknya pasir yang ditemui di tepi pantai menyelimuti lanskap bersuhu 15 derajat celcius itu.”

Keindahan alam Papua bagai surga kecil yang jatuh ke Indonesia. Mulai dari puncak tinggi Gunung Jaya Wijaya, hingga lanskap Raja Ampat yang mempesona. Nuansa wisata alam Papua seakan tidak ada habisnya. Kali ini, keajaiban itu berasal dari Wamena. Meski terletak di ketinggian sekitar 1600 meter di atas permukaan laut, hamparan pasir putih yang biasa ditemukan di tepi pantai menyelimuti lanskap bersuhu 15 derajat celcius itu. Bagaimana bisa?

Pasir putih di dataran tinggi tersebar di beberapa tempat, antara lain Beberapa Distrik Pisugi yakni Desa Aikima, Kampung Tulem, Habema, dan Lembah Baliem. Dataran berpasir putih telah sejak lama ada. Lantas, bagaimana kisahnya?

Pada tahun 1813 telah terjadi sebuah gempa bumi yang begitu kuat di Wamena, Papua. Guncangan itu mengakibatkan pergeseran lempeng bumi sehingga terjadi perubahan pada struktur tanah. Salah satu yang terdampak adalah Danau Wio yang ada di Wamena. Pergeseran lempeng membuat danau yang berada di dataran tinggi tersebut surut dan menyisakan pasir putih yang ia kandung. Tak sepenuhnya surut, sisa-sisa dari air Danau Wio mengalir menjadi sebuah sungai yang akrab disebut Sungai Baliem.

Cekungan Danau Wio membentuk sebuah lembah beralaskan pasir putih yang kini bernama Lembah Baliem. Sejumlah bukti fisik ditemukan bahwa Lembah Baliem berasal dari Danau Wio, yakni ditemukannya sisa-sisa rumah kerang yang tercecer di sana. Hamparan pasir putih di lembah yang kini dihuni oleh Suku Dani itu terbentuk secara alami. Kini, bunga-bunga indah tumbuh seraya menghiasi  Lembah Baliem.

Baca Juga: Tetap Lockdown, Dua Kepala Daerah Papua Tolak Keputusan Presiden

Ekspedisi Lembah Baliem

Lembah Baliem, Wamena, memiliki sejuta pesona yang mendunia. Festival Lembah Baliem pertama dihela pada tahun 1989 pada 7 sampai 10 Agustus. Pesta besar ini diisi oleh seni dan budaya Suku Dani, penghuni lembah di Wamena ini. Mulai dari rumah adat, pakaian adat, keseharian warga, hingga rekonstruksi budaya perang Suku Dani ditampilkan. Tak heran bila pamornya santer di kancah internasional.

Di balik kemeriahan budaya tersebut, tersemat sejarah yang sedikit orang mengetahuinya. Mengutip dari buku profil Festival Budaya Lembah Baliem 2019, kawasan ini dahulu secara tidak sengaja ditemukan oleh tim ekspedisi ilmiah yang dipimpin oleh Richard Archbold. Pada 23 Juni tahun 1938, tim ekspedisi Richard melintasi Lembah Baliem menggunakan pesawat. Melihat sebuah lembah yang luas, mereka berencana untuk mendarat. Saat itu, mereka menyebut Lembah Baliem dengan nama Lembah Agung.

Setelah Tim Richard, tim ekspedisi yang dipimpin oleh Kapten Teerink dan Letnan van Areken bertandang ke lembah berpasir putih itu. Mereka melakukan pendaratan di Danau Yugima yang kini bernama Danau Habema. Melalui Kampung Ibele, mereka singgah di Lembah Baliem dan mendirikan kemah. Setelah era ekspedisi tersebut, Lembah Baliem memberikan peluang bagi masyarakat luar untuk mengunjunginya.