Kedinamisan Sosial Papua yang Tetap Berpegang Pada Budaya
Kedinamisan Sosial Papua yang Tetap Berpegang Pada Budaya

Kedinamisan Sosial Papua yang Tetap Berpegang Pada Budaya – Mungkinkah terus mempertahankan tradisi di tengah kemajuan zaman yang serba digital, menuntut segala hal bisa dilakukan dengan secepat kilat, bahkan transaksi yang saat ini bisa dilakukan dengan sekadar membuka telepon pintar, mengetik dan memasukkan sesuatu, lalu semua beres. Apakah keadaan demikian akan segera menyusup dalam kehidupan yang sangat erat dengan kelokalan, tradisional, dan sederhana dalam pelukan erat di tanah Papua?

Jawa yang notabene menjadi pulau paling mudah bersentuhan dengan menyesuaikan dengan segala yang modern telah memasuki masanya sendiri. Desa tetap perlahan ditinggalkan oleh para generasi muda untuk mencicipi kehidupan kota, entah sekadar untuk melanjutkan sekolah maupun mencari penghasilan. Tapi kali ini, dengungan untuk memulai pembangunan dari desa kembali terngiang cukup lantang dari banyak kalangan. Dilema terjadi atas reaksi kehidupan kota yang tak selamanya menjanjikan kenyamanan, kemewahan, dan kecukupan. Manusia mulai kembali mengenal prinsip hidup yang cukup, tidak berlebihan, asalkan dekat dengan sumber pangan, dan jauh dari rasa frustasi atas keramaian kota yang serba menekan, baik secara ekonomi, sosial, dan justru kehilangan nilai budaya.

Hal serupa mungkin tak akan terjadi dalam waktu dekat di tanah Papua. Papua terkenal dengan pola hubungannya yang sangat dekat dan akrab dengan alam, adat istiadat, dan kesederhanaan mereka dalam menjalani keseharian. Walaupun dalam beberapa momen perayaan hal tersebut tidak bisa dikatakan secara sederhana, tetapi kekeluargaan dan kerja gotong royong mereka, menjadi suatu kekuatan yang sulit untuk dipisahkan. Kenyataannya, segala tradisi puritan yang kita temukan dalam realitas keseharian masyarakat Papua itu juga tidak berjalan di tempat.

Baca Juga: Hasil OTT Bupati Sidoarjo, KPK sita uang Rp. 1,8 Miliar

Hal yang Mempengaruhi Kedinamisan Sosial Papua

Seiring bergeraknya waktu, terjadi pula pergeseran dan perubahan struktural maupun kultural secara natural. Suatu sistem budaya itu tidak akan pernah berhenti. Dia juga mengalami perubahan dan perkembangan, baik karena dorongan-dorongan dalam maupun dorongan luar. Interaksi antara komponen-komponen budaya itu dapat melahirkan bentuk-bentuk simbol baru. Demikian juga interaksi budaya dengan pengaruh-pengaruh luar sering dapat mengubah sistem budaya, baik komponennya atau bahkan keseluruhannya.

Mereka tidak hanya menyerahkan budaya lokal untuk bertahan walaupun secara kodrat tidak akan hilang, tetapi ikut bertanggungjawab mempertahankannya, sehingga identitas kelompoknya juga turut bertahan.

Mereka yang memilih untuk berani memangku globalisasi modern, adalah sekelompok masyarakat yang tercerahkan. Mereka menyimbolkan rangka dirinya sebagai modern, dan isi jiwanya yang kental tradisi.