Keindahan Pangkur Sagu, Bak Tarian Berbalut Tradisi
beritapapua.id - Keindahan Pangkur Sagu, Bak Tarian Berbalut Tradisi - DetikTravel

Keindahan Pangkur Sagu, Bak Tarian Berbalut Tradisi – Sagu seperti kita ketahui merupakan sumber pangan utama atau pokok bagi masyarakat Indonesia Timur pada umumnya. Khasiat sagu sangat bagus sebagai sumber karbohidrat dengan lemak jenuh yang sangat rendah. Pada akhir tahun 2009 tren sagu sebagai menu diet mulai dikenal dunia.

Sebagai makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua, sagu bisa diolah menjadi berbagai penganan lezat yang tidak terpaku pada satu pakem saja. Dari makanan ringan hingga makanan berat, kreasi pengolahan sagu menjadi sangat variatif dan tidak hanya terpaku pada Papeda saja.

Uniknya, pengolahan sagu dari pembuatannya merupakan serangkaian proses yang menjadi sebuah keunikan, dimana oleh orang Papua, hal ini menjadi sebuah kreasi dan ritual budaya dengan tarian ‘Pangkur Sagu’.

Pangkur sagu adalah sebuah proses pembuatan dari mulai memilih pohon sagu yang sudah cukup tua untuk ditebang, kemudian dikuliti. Batang pohon sagu yang telah dikuliti kemudian dipukul-pukul hingga berbentuk serbuk kayu kasar. Serbuk kayu kasar itu akan disaring dengan menggunakan ‘Goti’.

Baca Juga: Aksi Ferdian Paleka yang Membuat Transpuan Semakin Termarjinalkan

Apa itu ‘Goti’?

Goti adalah saringan yang terbuat dari anyaman dari sela-sela pohon sagu. Sagu yang disaring itu kemudian dicampur dengan air dan diperas hingga keluar sari pati sagu yang kemudian diendapkan di dalam Tumang yang terbuat dari daun pohon sagu.

Serangkaian proses Pangkur Sagu tersebut kemudian diceritakan dalam Ritual Tari Pangkur Sagu. Ritual ini biasa dilakukan dengan cara bernyanyi dan menari sebagai simboli rasa syukur, gotong royong dan kebersamaan. Meski dilakukan pada saat panen, Tari Pangkur Sagu juga lazim dilakukan pada pementasan upacara adat, maupun penyambutan tamu agung.

Ritual Tari Pangkur Sagu dipentaskan atau dilakukan dengan menggunakan riasan cat putih yang berasal dari zat kapur cangkang kerang. Sekujur tubuh para penarinya dilukis dari wajah sampai kaki yang dapat dikatakan menutupi hampir seluruh permukaan kulit.

Edo Kondologit, penyanyi asal Papua pernah menceritakan secara apik Ritual Pangkur Sagu ini dalam lagunya di tahun 1998. Pengucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kebesaranNya, dengan cara menyanyi dan menari.