Keindahan Toleransi di Ambon Dengan Budaya Pela Gandong
Budaya Pela Gandong, Ambon, Maluku (foto : istimewa)

Pela Gandong adalah adalah ikatan darah atau keturunan untuk menjaga hubungan antara kerabat yang berada di negeri atau pulau yang berbeda. Istilah ini menjadi nilai adat masyarakat Ambon untuk menyatukan persekutuan yang terjadi antara kelompok-kelompok tertentu dari wilayah yang berbeda.

Ambon, pernah menjadi riwayat betapa brutalnya perang saudara. Ego yang terbalur stigma dan provokasi, pecah menjadi aksi yang penuh emosi.

Kiranya, riwayat itu biarlah menjadi kisah yang tak perlu ditanggapi dengan sebuah reaksi yang hanya akan mengiris hati.

Dari situ, kita belajar kisah tentang hilangnya persaudaraan, yang tercabik-cabik oleh rasa benci dan hanya mendatangkan kemudharatan.

Kerusuhan yang terjadi pada tahun 1999, hanya menyisakan duka dan sesal yang tak berkesudahan.

Pela Gandong, Pernah Hilang Namun Kini Kembali

Persaudaraan dan nilai adat Pela Gandong yang pernah ada, pernah juga hilang. Namun kini kembali, menjadi semangat masyarakat yang untuk kembali bergandengan tangan.

Hari raya keagamaan, menjadi semarak tersendiri. Baik itu di hari Natal, maupun Idul Fitri. Masyarakat Ambon, sudah tak lagi terbagi menjadi dua sisi. Kini semua hidup dalam persaudaraan yang begitu harmonis, juga damai.

Baca Juga : Mahasiswa Gelar Aksi Protes Label Teroris TPNPB-OPM

Semarak Ramadan, mungkin tak begitu terasa kini karena pandemi. Tapi, budaya menikmati bersama takjil yang digelar sepanjang jalan Masjid Al Fattah, tak akan bisa berhenti.

Kuliner khas Ambon yang berpadu dengan budaya Arab, seperti Asida, bisa kita temui dengan mudah. Roti maryam dan wajik hitam gula merah Ambon tak kalah dalam menggugah selera.

Tapi ada satu nilai yang unik dalam perayaan Idul Fitri di Kota Ambon. Pemuda-pemuda paduan suara gereja, kompak dengan remaja Muslim melantunkan sholawat. Diiringi terompet atau gitar yang berpadu dengan rebana, suasana begitu syahdu memukau bagi saudara yang sedang berbuka puasa.

Kebiasaan ini terjadi pada kedua hari raya. Umat Muslim akan membantu umat Kristiani ketika Natal telah tiba, umat Kristiani akan membantu umat Muslim ketika Lebaran telah tiba.

Ini bukan upaya untuk merajut kembali, ini adalah menghidupkan kebiasaan, budaya Kota Ambon yang penuh toleransi.

Masyarakat Ambon pernah hidup penuh ketakutan. Dentuman bom dan serpihan peluru pernah menjadi santapan sehari hari.

Namun, kini Ambon telah bangkit, maju bersama dalam satu gerbong. Persaudaraan yang dulu pernah terkikis, kini kembali bersatu dalam nilai adat Pela Gandong.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah.