Kelaziman Baru, Pemicu Gelombang Kedua Covid-19?
beritapapua.id - Kelaziman Baru, Pemicu Gelombang Kedua Covid-19? - Tribun

Pemerintah sedang gencar menyosialisasikan “new normal” atau “kelaziman baru”. Istilah ini merujuk pada protokol dalam menjalankan aktivitas kehidupan bermasyarakat. Presiden Jokowi sendiri telah berkeliling ke sejumlah pusat keramaian untuk memastikan kesiapan new normal. Di berbagai media sosial kelaziman baru kerap menjadi topik perbincangan para warganet. Tidak sedikit yang mengkritik kebijakan kelaziman baru yang diluncurkan pemerintah. Para warganet tersebut memberikan argumen bahwa kasus covid-19 di Indonesia masih belum melandai, karena setiap harinya masih bertambah kasus-kasus baru.

Sampai Kamis (28/5), Indonesia mencatat 24.538 kasus terkonfirmasi covid-19. Melihat statistik dari awal mula kasus covid-19 yang ditemukan di Indonesia, belum terlihat adanya tanda-tanda penurunan kasus. Dilansir dari papua.tribunnew.com, Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Syharizal Syarif mengatakan bahwa Indonesia belum mencapai puncak wabah virus covid-19. Syahrizal juga menganalisis kemungkinan adanya gelombang kedua penyebaran virus covid-19 pasca lebaran.

Seperti yang dilansir dari cnnindonesia.com, Ketua DPR RI, Puan Maharani mengkritik pemerintah agar tidak terburu-buru menyusun protokol kelaziman baru yang beberapa kali disampaikan pemerintah untuk merespon kondisi ekonomi selama pandemi covid-19.

Dalam kritiknya, Puan mengingatkan berbagai ketentuan yang diwajibkan WHO sebelum menerapkan kelaziman baru. Misalnya, kemampuan negara mengendalikan transmisi virus covid-19, kemampuan rumah sakit melakukan pengujian sampel dan kemampuan rumah sakit dalam setiap menangani kasus baru

Baca Juga: Beradaptasi lewat New normal atau pola hidup baru

Kelaziman Baru di Korea Selatan Memicu Gelombang Kedua Covid-19

Di Korea Selatan muncul laporan lonjakan kasus covid-19 dalam dua bulan terakhir. Padahal Korea Selatan diidentikkan sebagai contoh kelaziman baru di dunia. Sampai hari Kamis (28/5), Korea Selatan mencatat pertambahan 79 kasus baru.

Korea Selatan sendiri telah melonggarkan kebijakan jaga jarak sosial sejak awal bulan Mei. Semua aktivitas di negara ginseng tersebut sudah normal namun tetap mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah setempat. Tempat umum mulai dari rumah ibadah sampai sekolah telah dibuka. Siswa pun sudah diizinkan bersekolah sejak hari Minggu lalu.

Dilansir dari health.grid.id, Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in mengatakan, sebuah cluster baru di negara itu menunjukkan virus dapat menyebar secara luas kapan saja, dan memperingatkan gelombang kedua akhir tahun ini. “Ini belum berakhir sampai selesai. Kita tidak boleh menurunkan kewaspadaan kita tentang pencegahan epidemi,” kata Presiden Moon Jae-in.

“Kami berada dalam perang yang berkepanjangan. Saya meminta semua orang untuk mematuhi tindakan pencegahan dan peraturan keselamatan sampai situasinya selesai bahkan setelah melanjutkan kehidupan sehari-hari.” imbuhnya.