Kembali Belajar Luring, Sekolah Biayai Antigen Guru di Nabire
Tim Satgas Covid-19 Nabire (jubi.co.id)

Kembali Belajar Luring, Sekolah Biayai Antigen Guru di Nabire – Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Papua, telah mengizinkan kembali SMP, SMA, dan SMK di wilayah perkotaan Nabire untuk melakukan proses belajar-mengajar tatap muka atau luring. Namun dengan syarat seluruh guru harus terlebih dulu melakukan rapid test antigen.

Sebelumnya, seluruh sekolah dari PAUD hingga SMA di Nabire, Papua telah belajar tatap muka yang berlaku semester ini atau awal Januari. Kemudian berhenti dan beralih ke belajar daring selama dua pekan pada 2-16 Februari 2021, karena beberapa guru terpapar Covid-19. Kemudian kembali memperpanjang belajar darling hingga 22 Februari 2021.

Izin kembali belajar tatap muka di sekolah di Nabire, Papua hanya untuk SMP, SMA, dan SMK. Sedangkan PAUD, TK, dan SD masih belajar secara daring.

Hanya saja untuk syarat semua guru harus menjalani rapid tes antigen tidak mudah. Sekolah terpaksa membiayai sendiri rapid tes antigen, karena tidak ada program gratis dari Pemkab Nabire.

“Proses tes dilakukan secara mandiri atau swasta, tentunya tak ada jalan lain kecuali kami mengeluarkan biaya dari dana BOS,” kata Pilemon Musendi, kepala SMP Negeri 1 Nabire.

Ia mengatakan seluruh gurunya sudah menjalani rapid tes antigen dan hasilnya semuanya negatif. Karena itu SMP Negeri 1 Nabire sudah mengadakan belajar luring.

Sekolah harus mengeluarkan untuk rapid tes antigen per tes Rp350 ribu terhadap 54 guru.

“Mau tidak mau ini harus dilakukan, sebab sekolah tidak mau siswa ketinggalan pelajaran, padahal dana yang dimiliki sudah sesuai pos masing-masing, terpaksa mencabutnya demi siswa,” ujarnya.

SMK Negeri 2 Nabire juga terpaksa mengeluarkan biaya dari dana BOS. Kepala SMK Negeri 2 Nabire Yustus Paisei heran karena Pemkab Nabire tidak membantu, karena dana BOS sebenarnya sudah memiliki perhitungan yang ada pada tiap pos.

Baca Juga : Bikin Gregetan, Tapi Pesepeda Dilindungi UU Lalu Lintas

“Maksud saya, kalau bisa ada bantuan sedikit dari Pemkab Nabire, sebab tes ini swasta, bukan pemerintah,” katanya melalui telepon.

Apalagi, kata Paisei, pembiayaan Covid-19 tidak hanya rapid tes antigen, tetapi juga pengadaan untuk mengikuti protokol kesehatan. Mulai dari pengadaan tempat pencuci tangan dan pipa air, hingga alat ukur suhu tubuh, hand sanitizer dan sabun.

“Ya, kami hanya ingat anak-anak mau belajar, apapun pasti kami lakukan,” katanya.

Harga Antigen Yang Bervariasi

Ia mengatakan untuk rapid tes antigen biayanya bervariasi, mulai Rp200 ribu hingga Rp350 ribu per orang untuk sekali tes. Untuk tes 46 guru dengan mengalikan biaya minimal Rp250 saja total membutuhkan biaya Rp11,5 juta.

“Sekali lagi, paling tidak ada batuan dari Pemkab untuk membantu atau membantu setengahnya. Bisa juga Pemkab percepat melakukan rapid tes antigen non berbayar sehingga bisa membantu sekolah,” katanya.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Nabire dr. Sayori mengatakan persoalan tersebut dilematis.

“Penyebabnya kosongnya ketersediaan cartridge untuk pemeriksaan Covid-19 pada alat TCM RSUD Nabire, sudah beberapa minggu ini cartridge kosong,” katanya.

Karena itu, katanya, solusinya adalah melalui swab antigen dari klinik swasta sebagai mitra pemerintah melalui pembiayaan mandiri.

Ia mengatakan, Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Nabire mengambil langkah untuk berkoordinasi dengan RSUD Nabire dan sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua. Namun karena persediaan terbatas dari pusat maka Antigen belum terpenuhi.

“Jadi sekali lagi untuk sementara kita masih rapid test antigen oleh klinik-klinik swasta yang ada di Nabire,” ujarnya.