Kemenkes Siapkan Swab untuk Atlet Pesonas dan Pendamping
beritapapua.id - Senam pagi para atlet Pesonas. (Foto: Istimewa)

Pekan Special Olympic Nasional (Pesonas) yang akan dilaksanakan untuk pertama kalinya di tahun ini, direncanakan akan berlangsung di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 3 Juli 2022 hingga 18 Juli 2022 mendatang.

Terkait dengan ajang olahraga nasional bagi penyandang disabilitas intelektual tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan dukungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dipimpinnya dengan cara mengenalkan dan melaksanakan sejumlah rencana pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Menkes Budi mengatakan, bahwa Kementerian Kesehatan akan menyiapkan tes usap/swab antigen bagi para atlet Pesonas dan pendampingnya. Selain itu, Kemenkes juga akan mendukung pemberian vaksinasi bagi para atlet di daerah asal.

Dikutip dari liputan 6, “Di acara Pesonas nanti, Kemenkes akan menyiapkan swab antigen untuk para atlet dan pendampingnya. Kami juga akan mendukung pemberian vaksinasi di daerah asal mereka, sebelum keberangkatan ke Semarang,” tutur Menkes Budi usai audiensi dengan pengurus Special Olympic Indonesia (SOINA), organisasi penyelenggara Pesonas di kantornya Selasa, 19 April 2022.

Rumah Sakit Ikut Dilibatkan

Selain menyiapkan fasilitas vaksin dan swab, Kemenkes juga akan meminta para tenaga kesehatan dari Rumah Sakit (RS) Karyadi Semarang untuk bersiaga merawat jika ada peserta Pesonas yang sakit ketika acara berlangsung. Menkes juga mengatakan bahwa fasilitas yang tersedia di Politeknik Kesehatan dan Balai Pendidikan Kesehatan yang berlokasi di sana pun dapat digunakan.

Dalam kesempatan tersebut, Menkes Budi juga menyampaikan pihaknya akan memikirkan cara agar penyandang disabilitas intelektual dapat hidup lebih baik.

“Ke depannya, kami juga akan memikirkan bagaimana teman-teman disabilitas intelektual ini bisa hidup lebih baik. Hal ini sedang kami diskusikan juga dengan para pelaku yang memahami bagaimana caranya membantu mereka,” ucap Menkes Budi melalui keterangan resmi yang diterima Liputan6.com, ditulis Senin, 25 April 2022.

Budi Gunadi menambahkan, harus ada pendekatan dan sosialisasi kepada keluarga. Karena menurutnya, keluarga merupakan support system terbesar dalam kehidupan para penyandang disabilitas intelektual. Selain pendekatan dan sosialisasi pada keluarga, riset genetik, juga akan [dilakukan] agar bisa mengatasi persoalan tingginya angka penyandang disabilitas intelektual tersebut.

Menkes mengaku cukup terkejut dengan jumlah penyandang disabilitas intelektual yang cukup tinggi di Indonesia.

“Saya kaget juga, ada 2 persen penduduk atau 5,2 juta disabilitas intelektual di negeri kita. Cukup banyak. Siapa tahu kita bisa lakukan sesuatu seperti identifikasi lebih dini atau pengobatan dengan teknologi yang baru,” ujarnya.

Pendapat Ketua Umum Pengurus Pusat SOINA Warsito Ellwein

Ketua Umum Pengurus Pusat SOINA Warsito Ellwein menjelaskan, anak-anak disabilitas intelektual bukanlah anak-anak cacat. Warsito menjelaskan bahwa secara fisik, mereka sehat namun memiliki kekurangan secara intelektual.

Kekurangan tersebut, kata Warsito, [diimbangi] dengan kelebihan lain yaitu hati yang bersih sehingga mereka tidak pernah menipu atau memiliki pikiran jahat. Kerap kali, anak penyandang disabilitas intelektual dianggap sebagai beban oleh keluarganya. Anggapan tersebut justru menyebabkan mereka tidak dapat mengembangkan diri dengan baik.

Baca Juga: Kemendikbud Ristek Minta Poltekpar Siapkan Inovasi

“Anak-anak bertalenta khusus ini seringkali dianggap beban karena orangtua menjadi malu, sehingga mereka disimpan rapat-rapat di rumah. Orangtua yang memberi ruang yang luas sehingga anaknya bisa bergerak, akhirnya mampu mengembangkan dirinya secara maksimal,” ucap Warsito.

Menurutnya, anak bertalenta khusus tidak perlu dikasihani agar mereka bisa jadi subyek, bukan obyek. Di Pesonas nanti, berbagai fasilitas dan kegiatan akan disiapkan sehingga anak-anak tersebut bisa merasakan hidup yang aman, nyaman, guyup, rukun dan bahagia.