Kenaikan Harga Minyak Dunia Pengaruhi Harga Pertamax Indonesia
beritapapua.id - Ilustrasi industri minyak dan gas. (Foto: Istock)

Harga minyak dunia yang belum stabil membuat gempar dunia. Meskipun harga minyak dunia sudah turun jauh dari angka tertinggi yang sebelumnya menyentuh US$128 per barel, minyak mentah jenis Brent masih berada di angka US$111.2 per barelnya pada hari Rabu, 30 Maret 2022, pukul 13.10 WIB. Sedangkan di waktu yang sama, minyak mentah jenis WTI berada di angka US$ 105.1 per barel.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan akan muncul kenaikan harga pada BBM jenis Pertamax. Hal tersebut diperkirakan terjadi karena harga minyak dunia di bulan Maret yang melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan pada Februari 2022, sehingga dapat membuat harga dari pertamax melambung tinggi. Harga BBM jenis Pertamax ini nantinya diperkirakan akan mencapai harga Ro16.000 per liter.

Dilansir dari pikiran rakyat, Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik, dan Kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan “Dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret dibandingkan Februari, maka harga keekonomian (batas atas umum BBM) RON 92 (Pertamax) pada April 2022 bisa lebih tinggi lagi.”

Baca Juga: Kenaikan Harga Minyak Dunia Berikan Efek Domino

Dia juga menambahkan bahwa harga Pertamax yang awalnya Rp14.526 per liter, nantinya bisa tembus hingga Rp16.000 per liter. Kenaikan harga tersebut nantinya akan memberi beban berat pada beberapa pihak. Pihak yang akan diberatkan adalah seperti APBN, Pertamina, dan beberapa sektor lainnya.

Perkembangan Harga Minyak

Hingga akhir Maret 2022, harga minyak dunia masih tinggi dan berada di angka US$100 per barel. Hal yang sama juga berlaku untuk minyak mentah Indonesia.

Perkembangan sementara ICP di bulan Maret 2022 pada tanggal 24 sebesar US$114.55. Konflik di Ukraina akibat invasi dari Rusia dituding menjadi salah satu sebab kenaikan harga minyak mentah ini. Selain itu, harga minyak dunia juga dipengaruhi oleh pasokan minyak dari Rusia dan Kazakhstan yang terganggu akibat pipa Caspian Piperline Consortium berdampak pada kekurangan minyak yang terjadi di Uni Eropa.