Keragaman Bahasa yang Memperkaya Tanah Papua
Keragaman Bahasa yang Memperkaya Tanah Papua

Keragaman Bahasa yang Memperkaya Tanah Papua – Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi antar individu, keluarga, dan kelompok masyarakat. Lahir dan berkembangnya suatu budaya juga bisa dianalisa dari bahasa. Misalnya dari bagaimana sebuah bahasa tersebut hadir dalam kehidupan komunal suatu kelompok di daerah tertentu. Faktor yang mempengaruhi dan membentuk bahasa itu sendiri akan dipengaruhi serta mempengaruhi identitas kelompok dan masyarakat yang menggunakannya.

Papua, sebagai wilayah dengan keragaman bahasa tertinggi juga memiliki cerita dan sejarah tersendiri. Bahasa-bahasa di Papua dibagi ke dalam dua rumpun utama, yaitu bahasa-bahasa Austronesia dan bahasa-bahasa non-Austronesia, atau disebut juga bahasa-bahasa Papua. Pembagian kedua rumpun bahasa bukan hanya dilihat dari sisi pendekatan linguistik historis saja, tetapi juga dari pendekatan tipologi yang melihat sifat-sifat gramatika. Pendekatan linguistik historis memberikan bukti bahwa kedua rumpun utama ini memiliki sejarah yang berbeda.

Bahasa-bahasa Austronesia berasal dari satu nenek moyang bahasa yaitu Proto-Austronesia yang berasal dari Taiwan dan kemudian menyebar ke kawasan yang sangat luas, yaitu dari Taiwan di utara sampai Selandia Baru di selatan dan dari Kepulauan Paskah (Easter Island) di Timur sampai di Madagaskar sebelah barat yaitu di pantai timur benua Afrika. Mayoritas bahasa-bahasa di Indonesia masuk ke dalam rumpun Austronesia, kecuali beberapa bahasa di Kepulauan Alor dan Pantar, Halmahera Utara, dan sebagian besar bahasa-bahasa di Tanah Papua yang dikategorikan ke dalam bahasa non-Austronesia (atau Papua).

Baca Juga: Kebaikan Ibu Bumi yang Menjadi Teladan Masyarakat Papua

Keragaman Bahasa di Papua

Bahasa-bahasa di Papua yang masuk dalam rumpun Austronesia terletak di pesisir pantai utara dan pulau-pulau sekitarnya. Mulai dari pesisir pantai Jayapura, Sarmi dan Teluk Cenderawasih, serta Kepulauan Raja Ampat. Bahasa-bahasa ini dibagi ke dalam dua sub- kelompok yaitu South Halmahera-West New Guinea (SHWNG) dan Oceania. Bahasa-bahasa di sekitar Jayapura dan Sarmi seperti bahasa Tobati, Kayu Pulo, Ormu (di Jayapura), Bonggo, Wakde, Anus, Yarsun, Kodena (di Sarmi) merupakan bahasa-bahasa yang masuk sub-kelompok Oceania. Yang masuk ke dalam sub-kelompok South Halmahera-West New Guinea adalah Waropen, Ambai, Ansus, Wooi, Pom, Serui Laut, Munggui, Kurudu, Moor, Biak, Roon, Wandamen, Dusner, Yaur (di Teluk Cenderawasih), Ambel, Maya, Batanta, Matbat (di Kepulauan Raja Ampat) dan kemungkinan bahasa Austronesia di sebelah barat daya Papua seperti bahasa Irarutu, Sekar, Kuri, Mor.

Bahasa-bahasa non-Austronesia (Papua) adalah bahasa-bahasa yang tidak berasal dari satu nenek moyang bahasa, tetapi terdiri dari banyak keluarga bahasa sendiri-sendiri. Diprediksi kurang lebih terdapat 60 keluarga bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Papua. Di Tanah Papua, bahasa-bahasa ini dibagi dalam tiga keluarga bahasa, yaitu Trans-New Guinea, West Papua, dan Geelvink Bay.

Secara ekologi bahasa, bahasa-bahasa non-Austronesia dari kelompok Trans New Guinea merupakan bahasa yang dominan karena daerah penyebarannya yang sangat luas, baik dari jumlah bahasanya maupun jumlah penuturnya. Bahasa ini juga menyumbangkan karakteristik bahasa yang sangat beragam meskipun dalam beberapa hal terdapat persamaan-persamaan antar bahasa.