Kesepian dan Pandangan Islam
Fenomena Kesepian dan Pandangan Islam

Kesepian Dalam Psikologi dan Pandangan Islam – Tahukah Anda? Kesepian menjadi salah fenomena yang marak terjadi kala pandemi ini. Terkait fenomena tersebut, Jepang bahkan membuat kementerian kesepian untuk mengurus masalah ini. Sejumlah sumber menyebut, tingkat bunuh diri akibat kesepian melonjak di Jepang.

Berkaca dari hal tersebut, tentu kita perlu memahami bahwa siapa saja bisa mengalami kesepian. Tak terkecuali kita sebagai masyarakat Indonesia. Kesepian adalah hal lumrah yang terjadi kala seorang manusia terisolasi dan tidak dapat berinteraksi dengan orang lain.

Berdasarkan hasil penelitian, kesepian bisa jadi lebih berbahaya ketimbang merokok 15 batang rokok sehari. Bahkan, perasaan tersebut dapat berakibat fatal sebagaimana tingkat bunuh diri melonjak di Jepang.

Lantas, bagaimana menghadapinya?

Pahami Kesepian Dalam Psikologi

Menurut Psychology Today, ada 2 macam kesepian. Pertama, kesepian eksistensial. Perasaan ini muncul ketika tidak ada orang yang membutuhkannya. Ia tidak memiliki kegiatan atau aktivitas yang kemudian orang lain menganggapnya ada atau berguna.

Kedua, kesepian sosial dan emosional. Kesepian jenis ini muncul ketika seseorang terpisah dari orang-orang yang mereka cintai. Kerap kali kita tidak berada dalam lingkungan di mana kita merasa nyaman dengan orang-orang tersebut. Atau, kita tidak bersama orang-orang yang cocok.

Beda jenis kesepian, maka berbeda pula cara menanganinya. Namun, sejumlah sumber menyebutkan bahwa masalah kesepian perlu dibicarakan kepada orang yang mengerti. Lantas, bagaimana Islam menghadapi fenomena ini?

Berkumpul Bersama Orang-orang Saleh

Baca juga: Tanda Allah Berpaling dari Hamba-Nya

Hal utama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa kita merasa kesepian. Dengan demikian, kita tahu bahwa kita perlu mencari solusi atas permasalahan ini. Sebagai umat muslim, agama Islam telah memberikan solusi.

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Islam mengajarkan pentingnya kawan-kawan yang saleh dan baik. Mengikuti kegiatan positif seperti aktivitas masjid, tausiah berjamaah, atau kegiatan sosial dapat menjadi solusi. Dengan demikian, kita dapat mengatasi kesepian eksistensial kita.

Dengan ikut beraktivitas bersama kawan-kawan yang saleh, kita dapat mendongkrak rasa percaya diri kita. Selain itu, kita memiliki kawan persaudaraan yang paham akan kondisi dan permasalahan kita.

Jikalau kita perlu bercerita permasalahan, maka janganlah bercerita ke sembarang orang. Adukan permasalahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, nicaya Allah akan memberikan solusi. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar Ra’d ayat 28,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Adapun kita juga boleh berkonsultasi dengan orang saleh seperti ustad atau ulama jika memang perlu.