Macam Murtad Agar Tidak Tergelincir
Ketahui 3 Macam Murtad Agar Tidak Tergelincir

3 Macam Murtad – Murtad dalam arti sederhana adalah keluar dari Islam. Seseorang yang telah memeluk agama Islam kemudian murtad maka Allah tidak akan menerima ibadahnya.

Dalam makna bahasa, murtad bermakna kembali. Maksudnya, seseorang kembali dalam keadaan jahiliyah setelah memeluk agama Islam. Mereka yang meninggal dalam keadaan murtad, maka amalannya akan terhapus.

Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al Baqarah ayat 217 berfirman,

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal berada dalamnya.”

Murtad adalah sebuah ancaman bagi keimanan seorang muslim. Perilaku mampu merusak ibadah seseorang bahkan merusaknya. Oleh karenanya Nabi Ibrahim alaihissalam selalu berdoa,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Bayangkan, melalui perbuatannya, seorang dapat murtad. Misalnya, percaya bahwa Allah memiliki tandingan. Atau, menganggap perkara haram merupakan suatu hal yang halal. hal -hal tersebut merupakan bentuk kemurtadan seorang muslim.

Dengan demikian, kita perlu waspada dengan perilaku kita. Jangan sampai kita melakukan suatu yang yang akhirnya merusak keimanan kita atau murtad dari Islam.

Berikut 3 macam murtad yang perlu kita ketahui:

Baca juga: Beberapa Yang Mempengaruhi Faktor Gaya Hidup

1. Murtad dengan Perkataan

Pertama, perkataan kita dapat membuat kita murtad dari Islam. Sebuah perkataan yang bernilai kufur atau syirik, baik serius atau candaan dapat menggelincirkan kita. Misalnya, kita mengatakan bahwa suatu hal yang wajib merupakan hal yang tidak wajib.

Contohnya, ‘salat itu tidak wajib’. Mengutip dari almanhaj.com, hal ini termasuk perkataan kufur. Artinya, boleh karena sebab itu seseorang murtad karena perkataannya. Allah subahanhu wa ta’alai berfirman dalam surat At Taubah ayat 74,

وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ

“Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam.”

Oleh karenanya, jagalah lisan kita. Meski hanya sebuah candaan, kita perlu mewaspadainya.

2. Murtad dengan Perilaku

Baca juga: Todd Ferre, Bintang Persipura Kembali ke Papua untuk AFC

Kedua, murtad yang terlihat dengan mata, yakni melalui perbuatan. Hal ini dapat berbentuk perilaku maksiat yang kelewat batas. Misalnya, melakukan pesugihan, melempar Alquran, atau bahkan mengenakan jimat.

Dalam kasus lain, melalaikan berbuatan wajib termasuk perbuatan murtad. Misalnya, meninggalkan salat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ الصَّلاَ ةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Batas antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti dia telah kafir. (HR Ahmad, at-Tirmidzi) -keislaman.html

3. Murtad dengan Keyakinan atau Ragu

Ketiga, murtad melalui keyakinan. Hal ini memiliki kaitan erat dengan murtad dengan perkataan. Apapun yang seseorang yakini sebelum terucap, dapat menggolongkannya sebagai muslim murtad.

Misalnya, ia menganggap salat itu tidak wajib. Meski ia tidak mengatakannya namun ia percaya, maka ia telah murtad. Begitu pula halnya ketika seseorang ragu terhadap agamanya.

Misalnya, ia ragu apakah hari akhir benar-benar ada. Atau, ia ragu apakah ia Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya kala kesulitan. Keraguan ini adalah perusak keimanan yang dapat membawa seseorang ke dalam kemurtadan.