Ketika Rasul Mencintai Sahabatnya
Ketika Rasul Mencintai Sahabatnya

Rasul Mencintai Sahabatnya – Cinta punya beragam makna, tak melulu soal romansa tapi juga agama. Sebagaimana cara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mencintai para sahabatnya. Beliau mencintai mereka dengan cara yang tulus, yakni membimbing mereka ke arah ketaatan.

Kisah Mu’adz bin Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, misalnya. Kala itu, beliau mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memegang tangannya seraya berkata,

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”

Bagaimana perasaannya ketika mendengar manusia terbaik mengatakan hal tersebut. Sungguh, Mu’adz merasa sangat beruntung. Kemudian, apa yang akan Rasulullah sampaikan berikutnya adalah bukti cintanya kepada Mu’adz.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).”

Rasul Mencintai Sahabatnya

Baca juga: Fintech Ilegal, Patutkah Dibayar? Begini Penjelasannya

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menunjukkan kasih sayangnya dalam bentuk nasihat ketaatan. Begitulah wajah cinta menurut pandangan Islam. Karena cinta tak melulu soal romansa, melainkan juga tentang agama.

Dengan demikian, cinta dalam Islam dapat berbentuk sebuah ketaatan dan takwa. Hal ini boleh dalam bentuk ibadah ataupun berbuat kebajikan. Dalam contoh yang Rasul berikan kepada Mu’adz, bentuk cinta dapat berbentuk dzikr.

Lantas, apa itu dzikr?

Dzikr: Mengingat Allah dalam Hati dan Lisan
Sebagian orang menganggap bahwa dzikr atau dzikir hanyalah terletak pada lisan. Namun, hal ini kurang tepat. Misalnya, melantunkan 1000 kali dzikir dengan lisan akan berbeda jika benar-benar menghayati kalimat tersebut.

Dalam sebuah sumber menyebut, bahwa dzikir 1000 kali merupakan cara ulama Nusantara terdahulu untuk membiasakan diri. Artinya, amalan ini memiliki makna yang lebih dalam. Mari kita bahas menggunakan pesan Rasulullah kepada Mu’adz.

Ketika Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu menerima nasihat tersebut, beliau pun mengamalkannya. Kemudian, Mu’adz mewasiatkannya kepada sahabat lainnya sebagai bentuk kasih sayangnya kepada yang lain.

Hadis sebelumnya bersambung dengan bunyi,

وَأَوْصَى بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ.

“Mu’adz mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Doa yang Rasul ajarkan lebih spesifik berbunyi,

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, artinya: Ya Allah, tolonglah kami dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu.”

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, doa ini mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Bahkan, untuk mengingat Allah pun kita harus meminta pertolongannya. Makna dari hadis tersebut adalah, bahwa kita perlu mengingat Allah menggunakan hati kita, bukan sekadar lisan.

Orang yang mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dengan hatinya akan mengenal Allah lebih baik. Caranya adalah dengan mengingat nikmat Allah, merenungi kebesaran dan sifatnya, serta mengimaninya.

Oleh karenanya, mari kita biasakan hati kita untuk mengingat Allah. Dengan demikian, kita dapat menebar rasa cinta kepada sesama sebagaimana Rasul contohkan.