Kiprah Mama Asmat di Pesisir
beritapapua.id - Kiprah Mama Asmat di Pesisir

“Sektor perikanan atau menjadi nelayan kerap didefinisikan sebagai sektor yang maskulin. Kini, nampaknya maskulinitas itu telah dihantam zaman.”

Suku Asmat terkenal dengan budayanya yang arif. Tak hanya hasil pahatannya yang mendunia, sistem pembagian kerjanya pun juga menjadi buah bibir. Laki-laki suku Asmat biasa mengerjakan pekerjaan kasar seperti memahat, berburu, hingga menjadi nelayan. Sedangkan perempuan suku Asmat, atau kerap disebut Mama Asmat, mempersiapkan peralatan laki-laki kaum Asmat. Pembagian kerja tersebut merupakan salah satu budaya yang sangat kental di kalangan mereka. Namun agaknya pemandangan ini sedikit berbeda di Agats, salah satu wilayah Pesisir Asmat, Papua.

Agats merupakan permukiman warga suku Asmat yang terletak di tepi laut. Sebagai wilayah pesisir, nelayan menjadi profesi utama sebagai sumber mata pencaharian. Nelayan di wilayah Agats didominasi oleh perempuan. Sejak pagi, Mama Asmat sudah pergi melaut untuk mencari ikan. Tak sembarang kondisi mereka dapat pergi. Mereka menanti Air Konda, yakni kondisi air laut dalam keadaan tenang. Air Konda merupakan kondisi di mana beragam biota laut dapat ‘dipanen’ di perairan dangkal, salah satunya ialah udang putih.

Tak seperti nelayan pada era modern yang menggunakan kapal bermotor, Mama Asmat melaut dengan ci–sebuah kapal tradisional yang digerakkan menggunakan dayung. Ekosistem mangrove di pesisir selatan Papua membuat biota laut hidup makmur di wilayah tersebut. Alhasil, Mama Asmat tak perlu melaut jauh untuk mendapatkan hasil yang melimpah. Hasil tangkapan Mama Asmat sebagian dibawa pulang dan sebagian besar dijual di Agats.

Baca Juga: Surga Kecil Hendrik Yance

Peran Perempuan dalam Suku Asmat

Jika sepintas melihat skenario tersebut, maka kesimpulan yang muncul ialah Mama Asmat berperan sebagai salah satu penyokong kehidupan keluarga Asmat di pesisir selatan Papua. Namun, hal ini sedikit berbeda dengan adat Asmat di mana laki-laki lah yang diasosiasikan dengan pekerjaan sebagaimana demikian. Aktivitas Mama Asmat di pesisir selatan Papua lantas menjadi bukti bahwa terkadang adat pun tergerus oleh zaman. Terpaan zaman tersebut kemudian mulai mengikis kebiasaan masyarakat yang kemudian menjadi paradoks yang membingungkan.

Hingga kini, informasi yang diperoleh menjelaskan kiprah Mama Asmat sebagai nelayan masih menjadi anomali. Profesi nelayan yang didominasi oleh perempuan merupakan bentuk adaptasi mereka terhadap kondisi. Mama yang harus menghidupi keluarganya tanpa dukungan suami memilih pekerjaan tersebut untuk bertahan hidup.

Sebagaimana surga kecil yang disebut oleh Hendrik Yance Udam, Papua merupakan hamparan alam yang menyediakan sumber alamnya untuk mereka yang tinggal di sana, tak terkecuali pesisir selatan Papua. Hamparan mangrove yang membuat biota laut hidup subur membantu Mama Asmat menghidupi keluarganya.