Kisah Abu Lahab
Kisah Abu Lahab Tampan dan Kaya Tak Ada Artinya Tanpa Iman

Kisah Abu Lahab: Tampan dan Kaya Tak Ada Artinya Tanpa Iman – Tahu kah Anda soal Abu Lahab? Namanya menjadi salah satu surat dalam kita suci umat muslim, yakni Alquran. Surat ke-111 itu mengisahkan paman Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menentang dan memusuhi ajaran Nabi. Allah Ta’ala berfirman,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Lahab: 1-5)

Dalam surat dengan 5 ayat tersebut, sebagian besarnya menggambarkan nasib dari orang yang menentang Rasul. Ayat ini turun kala Abu Lahab menyangkal peringatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tepat saat Nabi berada di bukit Shafa. Kisah itu termaktub dalam hadis dari Ibnu Abbas,

Ibnu Abbas mengisahkan bahwa suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar menuju Bathha`, kemudian beliau naik ke bukit Shafa dan berkata,

“Wahai sekalian manusia. Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?”

Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul. Mereka menjawab,

“Ya. Sesungguhnya kami mendapati engkau adalah orang yang benar.”

Beliau bersabda lagi,

“Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.”

Mendengar hal itu, Abu Lahab menjadi sangat marah dan berkata,

“Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh celakalah kamu sepanjang hidupmu.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“TABBAT YADAA ABII LAHAB..” Hingga akhir ayat.” (HR. Bukhari no. 4972 dan Muslim no. 208)

Abu Lahab Adalah Orang yang Kaya dan Tampan

Baca juga: Perpu Corona Digugat Karena Dinilai Bertentangan

Nama Lahab berasal dari ayahnya, yakni Abdul Muthalib. Nama Lahab diambil sesuai dengan wajah Abu Lahab yang merah terang seperti api. Persis seperti arti dari Lahab, yakni api.

Abu Lahab adalah salah satu dari 4 paman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ia merupakan orang yang kaya raya, pintar, dan termasuk orang yang terpandang. Bahkan, ia pun memiliki paras yang rupawan. Meski demikian, ia menjadi salah satu orang yang paling serang menentang ajaran Nabi.

Dalam beberapa kisah dari mufasir, Abu Lahab membenci Nabi Muhammad lantaran iri kepada salah satu paman Nabi. Abu Thalib, paman Nabi yang menjadi kepala Bani Hasyim dan melindungi Nabi Muhammad menjadi sebab pertentangan Abu Lahab. Hal ini karena Abu Lahab merasa bahwa ia adalah orang yang pantas menyandang status pemimpin Bani Hasyim.

Baca juga: Tata Cara Mandi Wajib Paling Ringkas Menurut Hadis

Oleh karena perasaan iri tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menentang Nabi bahkan hingga mencelakakannya.

Pada akhir hayat, Abu Lahab meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ia terjangkit penyakit kulit, atau mirip seperti wabah tha’un. Muncul bisul pada tubuhnya yang membuat orang-orang enggan mengurusnya.

Hingga akhirnya ia tewas, bahkan jasadnya tidak diurus selama 3 hari. Warga takut tertular dan tidak tahan akan baunya. Akhirnya, karena takut mayat dari Abu Lahab akan menularkan penyakit lebih parah, orang-orang menguburnya dengan cara yang tak lazim.

Mereka membuat lubang dan menjatuhkan jasad Abu Lahab dengan cara didorong dengan kayu. Setelah itu, warga melempari lubang tersebut dengan kerikil dari kejauhan karena tidak tahan dengan baunya.

Begitulah akhir kisah Abu Lahab. Bahwa, kekayaan, jabatan, dan ketampanan tidak ada artinya tanpa keimanan dan akhlak. Kita dapat memahami bahwa akhlak terpuji mampu mendatangkan kawan-kawan dan saudara yang baik dan saleh.

Merekalah yang akan membantu kita ketika kita sedang mendapatkan musibah. Atau bahkan, mengurus jenazah kita ketika meninggal.