Viral potongan video ceramah budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun di media sosial. Dalam video tersebut, Cak Nun menyebut beberapa orang dengan Firaun, Haman, dan Qorun.

“Karena Indonesia dikuasai oleh Firaun yang namanya Jokowi, oleh Qorun yang namanya Anthony Salim dan 10 naga. Terus Haman yang namanya Luhut,” katanya.

“Negara kita sesempurna dicekel oleh Firaun , Haman, dan Qorun. Itu seluruh sistemnya, seluruh perangkatnya, semua alat-alat politiknya sudah dipegang mereka semua. Dari uangnya, sistemnya, sampai otoritasnya, sampai apapun,” tambah Cak Nun dalam potongan video tersebut.

Satu yang menarik perhatian adalah disebutnya Anthony Salim dan keberadaan sang naga, yang dipercaya ada sembilan naga, bukan 10 naga seperti kata Cak Nun.

Perlu diketahui, Anthony Salim adalah pemilik Salim Group yang terkenal bermain di usaha pangan. Bidang usahanya menguasai pasar Indonesia. Beberapa merek terkenal seperti Indomie, Supermi, Sarimi, Bogasari, Bimoli, dan Indomaret adalah miliknya. Tak heran kalau dia memiliki harta kekayaan sebesar US$ 7,5 milliar, yang membuatnya menyandang predikat sebagai orang terkaya kelima di Indonesia versi majalah Forbes.

Usaha yang dirintisnya adalah warisan dari Bapaknya, pengusaha besar Indonesia bernama Liem Sioe Liong atau Sudono Salim.

Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia (2014), Salim memulai bisnis di sektor impor barang dan menjadi pemasok barang tentara. Karena menjadi pemasok inilah dia berkenalan dengan Soeharto yang kemudian menjadi Presiden Kedua Indonesia. Dekat dengan Soeharto membawa berkah bagi Liem. Terjadilah simbiosis mutualisme.

Soeharto yang melindungi Salim mendapat uang dari hasil bisnisnya yang makin makmur.

Hubungan Salim-Soeharto menjadi contoh bagaimana hubungan antara penguasa dan pengusaha, yakni simbiosis mutualisme yang kemudian menjadi pola umum di masa Orde Baru. Simbiosis mutualisme itulah, kata Sri Bintang Pamungkan dalam Ganti Rezim Ganti Sistim (2014), melahirkan satu istilah yang disebut ‘9 naga’.

‘9 naga’ sendiri adalah istilah yang disematkan oleh media untuk menyebut para pengusaha yang menguasai ekonomi Indonesia di masa Orde Baru. Ini bukan kelompok usaha atau organisasi, sehingga tidak ada anggota yang pasti. Kebanyakan pun hanya menerka-nerka anggota ‘9 naga’. Namun, beberapa nama lain, Aguan misalkan, juga disebut sebagai kelompok ‘9 naga’. Kalimat ‘menguasai ekonomi’ merujuk pada fakta ihwal besarnya gurita bisnis para pengusaha yang berdampak pada masyarakat Indonesia.

Setelah orde baru runtuh, istilah ‘9 naga’ pun bertahan. Di berbagai media muncul nama Robert Budi Hartono, Rusdi Kirana, Sofjan Wanandi, Jacob Soetoyo, James Riady, Tommy Winata, Anthony Salim, dan Dato’ Sri Tahir. Beberapa nama di antaranya menjalani bisnis orang tua, seperti James Riady (pemilik Lippo Group yang didirikan Mochtar Riady) dan Anthony Salim.

Jika mengacu pada ucapan Cak Nun dan melihat besarnya gurita bisnis mereka tak heran kalau Cak Nun punya spekulasi ada suatu sistem teratur. Cak Nun sendiri menyebutnya sebagai Qorun atau Qarun.

Qarun sendiri sebetulnya adalah salah satu cerita yang dijelaskan di Al-Quran. Dalam studi Zeki Saritoprak dalam “The Story of Qarun (Korah) in the Qur’an and Its Importance for Our Times” (Poverty and Wealth in Judaism, Christianity, and Islam, 2016), Cerita bemula ketika Qarun, yang saudara Musa, mendukung kekuasaan Firaun. Berkat mendukung Firaun, dia mendapat banyak harta dan dalam sekejap menjadi kaya raya.

Namun, ketika kaya raya Qarun menjadi sombong. Singkat cerita Tuhan murka dan meneggelakamkanya ke dalam tanah beserta seluruh hartanya.

“Saat ini, orang dapat berargumen bahwa untuk perkembangan manusia dan kondisi kehidupan yang baik, mengejar kekayaan tertentu diperlukan. […] Dengan menempatkan contoh Qarun kita diingatkan bahwa harta merupakan kendaraan menuju kebaikan sekaligus beban itu dapat menyesatkan pemiliknya,” tulis Zeki Saritoprak.

Ucapan Cak Nun itu hanyalah pendapat dan spekulasi pribadi. Faktanya orang-orang yang termasuk ‘9 naga itu’ tidak bermain politik dan banyak juga yang fokus pada kegiatan filantropis.