Klepon atau Onde-Onde? Intip Sejarah Perjalanannya
Klepon (foto : kompas.com)

Klepon atau Onde-Onde? Intip Sejarah Perjalanannya – Perdebatan penyebutan nama untuk jenis penganan ini masih sering terjadi di media sosial. Kue berbentuk bulat yang terbuat dari tepung beras, dengan isian gula merah dan dibalur kelapa parut ini, ada yang menyebutnya klepon, ada pula yang menyebutnya onde-onde.

Tekstur kue ini kenyal dengan kulit yang tawar. Sensasi dari memakan klepon adalah ketika menggigit kulit yang tawar ini, kemudian dikejutkan dengan rasa manis dari gula merah yang seakan pecah di mulut, ketika dinikmati.

Kue ini lazimnya dikenal dengan nama klepon. Namun untuk masyarakat Sumetera dan Malaysia, penganan ini pun dikenal dengan nama onde-onde atau kue melaka. Apapun penyebutannya, yang pasti kue ini dikenal dan kerap disuguhkan sebagai sajian hampir di seluruh Indonesia.

Makanan ini dikenal sebagai penganan yang berasal dari Pasuruan, atau Jawa pada umumnya. Mengutip dari timesindonesia, menurut sejarawan Sanata Dharma, Yogayakarta, Heri Priyatmoko, menyebutkan bahwa jajanan pasar ini bahkan sudah disebutkan dalam Serat Centhini. Ini berarti klepon sudah dikenal pada tahun 1814 – 1823.

“Di serat centhini itu sudah disebutkan klepon, sehingga itu dapat sebagai bukti catatan sejarah. Namun, sebelum itu saya meyakini bahwa klepon sudah ada karena klepon sudah menyatu dalam tradisi kuliner orang Jawa,” terang Heri.

Tahun 50an Klepon Dibawa ke Belanda oleh Imigran Indonesia

Klepon merupakan kuliner nusantara yang sudah menjadi warisan budaya Indonesia. Jajanan ini seakan mendobrak sekat dan kelas antar warga. Siapapun bisa menikmati makanan ini tanpa ada embel-embel eksklusif ini dan itu.

Baca Juga : Urgensi Kepresidenan RI Dalam Pernikahan Atta-Aurel

Begitu bersahabatnya makanan ini cocok dengan lidah semua orang, penganan ini pun dinikmati dan digemari oleh orang-orang Belanda. Seperti yang kami kutip dari Tirto.id, dalam buku Indisch Leven in Nederland, J. M. Meulenhoff menyebutkan pada tahun 1950-an, klepon telah diperkenalkan di Belanda oleh imigran Indonesia. Bahkan menurutnya, hidangan ini muncul sebagai pencuci mulut atau jajanan di retoran-restoran Belanda, Cina dan Indonesia.

Makanan ini hadir sebagai ragam kuliner nusantara bukan untuk menjadi bahan perdebatan. Namun untuk dinikmati dengan secangkir teh hangat di sore hari, sambil mungkin membaca mereka yang menghabiskan waktu untuk memperdebatkan namanya.