Komentar Melecehkan di Sosmed, Bisa Dipidana
Komentar Melecehkan di Sosmed, Bisa Dipidana

Komentar Melecehkan di Sosmed, Bisa Dipidana – Media sosial dengan interaksinya memang asyik untuk diikuti. Mengomentari suatu unggahan dari sebuah akun bisa menjadi sebuah percakapan yang menyenangkan. Namun, bisa juga menjadi suatu perdebatan yang berujung pada tindak pidana.

Saling bertukar pikiran atau berdebat itu sudah biasa di dunia maya. Interaksi ini bisa menambah wawasan, namun juga bisa menjerumuskan. Kadang memang kita tidak bisa menahan hasrat jari jemari kita untuk menyikapi suatu unggahan, yang mungkin juga sedikit provokatif.

Berhati-hatilah, dalam memberikan komentar. Apalagi komentar tersebut bersifat melecehkan seksual, dan ketanggapan dari netizen dalam menangkap layar unggahan kita, bisa menjadi alat bukti yang dapat dilaporkan sebagai tindak pidana.

Memang, etika bermedia sosial itu masih bersifat relatif. Komentar seperti yang dikutip di atas, bisa saja dianggap hal yang lumrah oleh penerimanya, namun bisa juga menjadi suatu hal yang dianggap melebihi batas kewajaran. Lantas, apakah saja pelaku yang memberikan komentar seperti demikian bisa dihukum jika dilaporkan?

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi)

Baca juga: Kandungan Pada Kopi, Vitamin Apa Saja Sih?

Dalam ketentuan UU, Pornografi dideskripsikan sebagai berikut:

Pasal 1 angka 1: Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Dan di dalam Pasal 4 menyebutkan bahwa: “Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:

a. Persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
b. Kekerasan seksual;
c. Masturbasi atau onani;
d. Ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
e. Alat kelamin; atau
f. Pornografi anak.

Maka dari itu, komentar dengan tujuan untuk memperkosa seseorang sudah bisa dikategorikan melanggar Pasal 4 UU Pornografi, yakni memproduksi dan membuat tulisan yang memuat persenggamaan, dan kekerasan seksual.

Perbuatan ini diancam dalam Pasal 29 UU Pornografi, dengan hukuman penjara selama paling singkat enam bulan.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)

Baca juga: Bagaimana Virus Menyebar Lewat ‘Ngobrol’ Tatap Muka?

Di dalam Pasal 27 ayat (1) UU ITE, berbunyi: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”.

Informasi elektronik dalam UU ITE juga telah dideskripsikan sebagai sekumpulan data elektronik yang juga termasuk tulisan. Maka perbuatan yang dilakukan oleh komentar melecehkan di sosmed “ingin memperkosa” adalah melanggar ketentuan Pasal 27 ayat (1) UU ITE yang dapat dipidana selama enam tahun.

Meskipun mungkin dengan berkomentar seperti yang tidak senonoh dianggap sebagai sebuah lelucon biasa, namun ancaman pemerkosaan tidak pernah bisa dianggap sebagai sebuah perbuatan yang lumrah dan harus diwaspadai.