Komisi I DPR RI Mendorong Pembentukan Kodim di Papua
Komisi I DPR RI Mendorong Pembentukan Kodim di Papua

Anggota Komisi I DPR RI dari dapil Papua, Yan Permenas Mandenas atau YPM mendorong pembentukan Kodim di seluruh Papua untuk mengimbangi Polres yang ada di daerah khususnya daerah yang dianggap rawan konflik.

Selain itu lanjut Mandenas, keberadaan Kodim baru juga untuk mengatasi masalah luas wilayah pengamanan suatu Kodim. Misalnya Kodim Wamena yang kini membawahi beberapa kabupaten.

“Saya mendorong pembentukan kodim di seluruh Papua untuk mengimbangi Polres,” tandas Mandenas belum lama ini kepada Reportase Papua.

Tujuan Pembentukan Kodim di seluruh Papua

Lanjut ia katakan, alasan kenapa mesti membentuk Kodim di seluruh Papua, agar pasukan organik yang ada di Papua hingga ke Koramil nantinya dengan tujuan melakukan pendekatan teritorial.

Menurut mantan Ketua Komisi IV DPR Papua ini, dengan pendekatan teritorial TNI akan menjadi bagian dari masyarakat. Sehingga jika tidak membentuk Kodim, maka daerah itu tidak akan aman.

Memilih Kodim Karena Sesuai Tugas dan Kewenangan

“Kita pilih sekarang, kita pilih Kodim atau Batalyon. Kalau saya lebih memilih Kodim karena dia akan mengedepankan pendekatan teritorial sesuai tugas dan kewenangannya,” jelas YPM.

Apalagi ujar Mandenas, kalau ada kejadian, pembinaan teritorial akan merekomendasikan penangannya kepada kepolisian. Karena bukan kewenangannya.

Sehingga sebelum orang di Papua ini meminta, Politikus Partai Gerindra ini sudah minta tarik pasukan non organik dari Papua. Sebab mereka sama sekali tidak memahami budaya orang Papua. Dan itu ia sampaikan berulang kali kepada panglima TNI dan terdengar oleh Menhan Prabowo Subianto.

Baca Juga : Tuntaskan Kasus Tipikor, Komitmen Kepala Kejari Sorong

“Bahkan saya dipanggilan sama beliau menanyakan kondisi Papua, jadi saya sampaikan itu. Saya bilang bapak mohon izin supaya ke dikurangi ke depan,” ucapnya.

Selain itu, ungkap Yan Mandenas, ini juga bisa mengurangi biaya dari APBN dan mengurangi konflik di Papua, karena mereka ini tidak memahami budaya dan karakteristik orang Papua. Sehingga kadang mereka salah persepsi.

“Kalau pasukan non organik, tugasnya kan tempur. Kalau tempur tidak ada kompromi. Meski operasinya bukan operasi tempur yang diinginkan. Tapi kondisinya begitu, pola pikirnya ketika ada pihak yang dianggap musuh harus dilibas. Itu pemahan pasukan non organik,” tandasnya.

Mandenas menambahkan, ini konsep yang dorong ke depan dengan harapan Papua ini bisa menanganinya dengan cara cara persuasif, pembinaan dan sebagainya.

“Jadi Inilah yang namanya mengedepankan fungsi terotorial,” tekannya.