Komodo, Naga Asal Indonesia yang Cinta Tanah Kelahirannya
beritapapua.id - Komodo, Naga Asal Indonesia yang Cinta Tanah Kelahirannya - Rappler

Pada tahun 2019 lalu, populasi komodo di Indonesia mencapai 1.500-an ekor yang tersebar di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut ranger Gusto, petugas jagawana di sana, jumlah tersebut belum mencakup komodo yang tersebar di pelosok pulau tersebut. Pada musim bertelur, komodo betina biasanya tidak keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengerami telurnya.

Jumlah populasi komodo di Indonesia dapat dikatakan stabil. Indonesia berhasil menjaga salah satu satwa purba yang dipercaya telah hidup sejak 4 juta tahun yang lalu. Faktanya, komodo betina dapat melahirkan tanpa harus dibuahi oleh sang pejantan. Bahkan, ia dapat memilih untuk kawin atau tidak kawin. Sel telur betina dapat membuahi sel telurnya sendiri. Ini salah satu penyebab suburnya pertumbuhan naga purba kala itu.

Sebagai hewan purbakala yang hingga saat ini masih hidup, tak ayal komodo menjadi binatang yang terkenal hingga mancanegara. Hewan tersebut kerap disandingkan dengan mitologi hewan legendaris, yakni naga. Tak heran, umumnya naga selalu digambarkan sebagai hewan mirip kadal dengan ukuran yang raksasa dan keganasan yang luar biasa.

Melihat dari asal-usul mitologinya, penafsiran naga tiap negara berbeda-beda. Dalam kitab Book of Job (Kitab Ayub) misalnya, naga digambarkan sebagai makhluk yang begitu besar dengan kemampuan mengeluarkan napas api dan kilat petir. Sama tapi tak serupa, dalam mitologi Jawa naga bahkan digambarkan sebagai ular raksasa dengan gigitan yang mematikan. Sedangkan dalam bahasa sansekerta, naga secara harafiah diartikan sebagai ular.

Terlepas dari mitos-mitos soal naga yang berkembang, pada akhirnya manusia menjatuhkan nama ‘naga’ pada hewan asal Indonesia, yakni komodo. Menurut sejumlah literatur, komodo adalah hewan yang paling cocok disebut sebagai naga. Secara umum, naga di dunia kerap digambarkan sebagai reptil yang mengerikan dan mematikan.

Baca Juga: Wano, Bahasa Warga Puncak Jaya Papua yang Hampir Punah

Malas atau Cinta Tanah Kelahiran?

Dalam mitologi Yunani kuno naga berasal dari kata draconta yang artinya ‘untuk mengawasi’. Hal ini kemudian digambarkan pada cerita dan film asal Eropa di mana naga tak pernah pergi meninggalkan tempatnya yang biasanya merupakan ladang harta karun. Bagi komodo, mitos tersebut berlaku.

Mengacu pada sebuah studi Sebuah yang diterbitkan di Proceeding of the Royal Society B pada bulan November tahun 2018, sekelompok peneliti gabungan asal Indonesia, Australia, Italia, dan Denmark berhasil menjelaskan mitologi naga Yunani tersebut melalui penelitian mereka soal sifat alami komodo. Berdasarkan hasil studi mereka, komodo disebut sebagai hewan ‘rumahan’ yang artinya tidak mau pindah dari tempat kelahirannya sepanjang hidupnya. Mirip dengan naga pada mitologi Yunani bukan?

Komodo diketahui sebagai hewan yang tangguh. Selayaknya naga, hewan purbakala ini bahkan mampu berenang menempuh jarak puluhan kilometer menyusuri medan berat. Namun, mereka tidak mau. Hal tersebut diungkapkan oleh Tim S. Jessop, profesor ekologi dari Deakins University, Australia. Menurutnya, hewan purbakala ini tidak ingin berpergian jauh dari tempat kelahirannya. Dilansir dari New York Times, Jessop mengatakan bahwa komodo terlanjur nyaman tinggal di tanah kelahirannya.

Hal ini menjelaskan mengapa hewan purbakala hanya ditemukan di Indonesia. Hewan itu tak mau pindah, lantaran segala yang dibutuhkan sudah terpenuhi di wilayah tempat tinggalnya. Sebuah penelitian pernah dilakukan dengan memindahkan sejumlah komodo ke pulau yang berjarak 1,6 kilometer dari Pulau Komodo. Hasilnya, satu ekor naga itu kembali ke rumahnya. Sebagian yang tinggal di tempat barunya justru mengalami masalah, seperti sulit untuk kawin dan kekurangan makan.

Berdasarkan penelitian tersebut, stabilitas populasi hewan purbakala ini menjadi meragukan. Menurut Jessop, spesies yang jarang berpencar justru berpotensi mengalami penyusutan populasi. Para peneliti khawatir jika terdapat hewan yang mendiami sebuah daerah selama beberapa generasi, akan terpapar sejumlah risiko. Beberapa di antaranya perkawinan sedarah, kelangkaan sumber daya alam, serta bahaya lain yang mungkin bisa dihindari jika mereka bergerak ke tempat lain.