Konflik Etnis Papua: Tersesat dalam Definisi
beritapapua.id - Konflik Etnis Papua: Tersesat dalam Definisi - Shutterstock

Konflik adalah media untuk mempersatukan kelompok yang berseteru, serta sebuah proses dalam memajukan peradaban.

Papua merupakan salah satu wilayah jajahan Belanda. Sebagai wilayah jajahan bangsa Eropa, tidaklah aneh apabila bangsa kolonial melihat budaya masyarakat Papua sebagai suatu hal yang tak lazim. Tanah Papua dihuni oleh beragam macam kelompok dengan organisasi sosial yang tak jarang berbeda-beda. Tiap-tiap kelompok memiliki warna-warni kearifan hasil cipta rasa dan karya masyarakatnya. Tercatat, Papua memiliki ribuan suku yang pula memiliki ragam bahasa yang banyak.

Banyaknya suku dan bahasa di wilayah itu menjadikannya salah satu wilayah yang berpotensi untuk terjadinya konflik. Dewasa ini dunia telah mengakui bahwa sebagian konflik tersebut telah bergeser menjadi ‘budaya’ mereka. Tengoklah festival Baliem yang mempersembahkan rekonstruksi perang masyarakat Dani yang secara eksplisit hendak mempertahankan budaya berperang dalam bentuk yang lebih ‘lembut’. Festival tersebut kemudian membawa kepada perenungan mengenai makna konflik di Tanah Papua.

Dalam ‘rimba’ definisi konflik–mengingat begitu banyaknya definisi konflik–setidaknya terdapat 3 pandangan dalam melihat konflik, yakni pandangan tradisional, modern, dan kontemporer. Menariknya, pandangan konflik kontemporer kerap menjadi antitesis pandangan tradisional yang melihat konflik sebagai suatu hal yang buruk, merusak, dan harus dihindari.

Baca Juga: Te Henua e Nnono, Kisah Film Kehidupan di Takuu Atol

Keragaman Wilayah dan Kelompok Masyarakat di Papua

Papua, tak seperti wilayah lainnya di Indonesia, terdiri dari kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan yang beragam. Konflik di lain sisi, memperkuat aspek primodialisme kelompok kecil dalam masyarakat Papua. Salah satu contoh yang fenomenal ialah tradisi ndambu pada masyarakat Arfak. Ndambu, dilatarbelakangi sebuah kisah tentang pertikaian yang kemudian memecah masyarakat Arfak menjadi 3 kelompok kecil. Menariknya, perpecahan tersebut mengajarkan masing-masing kelompok sebuah cara hidup yang baru. Mereka berkompetisi satu sama lain, menciptakan kehidupan yang ajeg agar tak terlihat buruk oleh klan lainnya.

Konflik dengan demikian, dalam masyarakat seribu budaya tersebut, tak melulu sebuah hal yang merusak. Terbukti, konflik itu pula yang kemudian mendorong masyarakatnya untuk maju, bahkan membentuk sistem pemilihan pemerintah sesuai dengan kearifan mereka. Tersesat dalam definisi konflik dapat menimbulkan resolusi yang sesat pula.