Korban Pemerkosaan di Cimahi Akhirnya Meninggal Dunia
beritapapua.id - Korban Pemerkosaan di Cimahi Akhirnya Meninggal Dunia

Korban Pemerkosaan di Cimahi Akhirnya Meninggal Dunia – Tindak kriminalitas memang akan selalu ada setiap harinya, entah apa yang membuat orang-orang begitu tega melakukan tindak pidana tersebut. Remaja berusia 15 tahun, korban pemerkosaan akhirnya meninggal dunia akibat kekerasan sekaligus pemerkosaan. Kejadian tersebut dialaminya di Kampung Pamoyanan, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Cimahi, Jawa Barat.

Korban berinisial ZNS (15) ditemukan tergeletak pingsan tidak berdaya serta berlumuran darah disekujur badannya diperkebunan tomat yang berada di Kampung Warung Muncang, kelurahan Cipageran, Cimahi Utara. Warga setempat yang melihat korban membawa korban kerumah sakit.

Polisi yang mendapatkan laporan, akhirnya menangkap pelaku Nanang Alias Onang (27) dan NN (17). Diketahui bahwa tindakan pelaku ini akibat dari pengaruh minuman keras. Dari keterangan pelaku, polisi mendapatkan informasi bahwa korban diperkosa dalam keadaan tak sadarkan diri setelah diberikan minuman keras, dan juga dianiaya oleh pelaku. Berdasarkan hasil otopsi korban mengalami luka berat dibagian kepala akibat hantaman benda tumpul. Ditemukan juga luka sobek dibagian pipi sebelah kanan korban akibat ditusuk oleh bambu.

Korban akhirnya meninggal setelah mengalami 14 hari masa kritis di kamar 303 RSUD Cibabat, Cimahi. Sebelum meninggal korban sempat sadarkan diri selama 2 (dua) hari. Kakak korban Mega Aryanti (21) mengatakan korban sempat berkomunikasi dengan keluarga, meski suaranya pelan dan terbata. Ia juga menurutkan bahwa korban sebelumnya selalu histeris dan tidak bisa diajak komunikasi.

Baca Juga: Papua dan Sagu di Nusantara

Ancaman Pidana yang akan diterapkan

Kasatreskrim Polres Cimahi AKP Yohannes Redhoi Sigiro mengatakan pihaknya sudah menerapkan Pasal 80 Ayat (2) dan Ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu:

“(2) Dalam hal anak sebagaimana diatur pada Ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp.100.000.000,00- (seratus juta rupiah).

(3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp.3.000.000.000,00- (tiga milyar rupiah).”

Dan 81 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu:

“(1). Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00- (lima miliar rupiah).”

Perlu diketahui Pasal yang didakwakan tersebut bersifat komulatif. Artinya, masing-masing pasal tersebut berdiri sendiri. Juga terdiri dari beberapa tindak pidana yang harus dibuktikan satu persatu. Dalam penjatuhan pidana penjara berdasarkan pasal 65 KUHP maka dijatuhkan hanya satu pidana saja. Tetapi dijatuhkan jumlah maksimum pidana yang diancam, dan boleh lebih dari  (satu per tiga) maksimum pidana terberat.

Dalam Kasus tersebut pidana terberatnya adalah 15 (lima belas) tahun. Maka jika ditambah  (satu per tiga) maksimum pidana terberat maka ancaman pidana penjara bagi para pelaku ada 20 (dua puluh) tahun.