Krisis Eksistensi, Kelompok Kekerasan Bersenjata Berulah di Papua
beritapapua.id - Krisis Eksistensi, Kelompok Kekerasan Bersenjata Berulah di Papua - Beritasatu.com

Krisis Eksistensi, Kelompok Kekerasan Bersenjata Berulah di Papua – “Indikasinya jelas, dia mau menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka memiliki eksistensi. Tujuannya mereka hanya mau membesarkan kelompoknya saja untuk diakui,” ujar Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw.

Papua kembali berdarah. Kali ini, Polisi menduga kuat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kali Kopi yang berulah. Kelompok yang dipimpin oleh Joni Botak itu melakukan penembakan terhadap karyawan PT. Freeport di Kuala Kencana, Timika, Papua, Senin (30/03. Dari insiden penyerangan tersebut, 3 karyawan PT. Freeport dilaporkan mengalami luka tembak dan 1 orang dikabarkan tewas.

Penembakan di area pusat perkantoran PT. Freeport bukanlah kasus biasa. Karyawan yang menjadi korban penembakan baru saja selesai menghadiri rapat terkait penanganan wabah covid-19. Selain itu, area pusat perkantoran merupakan wilayah padat aktivitas yang dinilai memiliki penjagaan. Dengan alasan tersebut, Paulus menilai aksi penyerangan KBB tersebut cukup nekat.

Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw, menyebut para pelaku adalah mereka yang sedang mencari eksistensi. Melalui aksi kekerasan dan penyerangan, Kelompok Kekerasan Bersenjata ini berupaya memberikan pesan terhadap masyarakat dan negara soal kehadiran mereka. Paulus menambahkan, pelaku merupakan anak muda yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga terdorong untuk melakukan aksi kriminal.

“Indikasinya jelas, dia mau menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka memiliki eksistensi. Tujuannya mereka hanya mau membesarkan kelompoknya saja untuk diakui. Jadi, untuk minta pengakuan. Itu yang kami sadari. Lebih dari itu tidak,” papar Irjen Waterpauw yang pernah menjabat Kapolres Mimika pada periode 2003-2005.

Sebelumnya, kelompok yang dinahkodai oleh Joni Botak ini kerap berulah di wilayah Freeport. Januari lalu, bus karyawan PT. Freeport dihujani peluru oleh sejumlah orang. Dugaan kuat mengarah pada Jonis setelah polisi melakukan olah TKP.

“Dilihat dari modus para pelaku berdasarkan olah TKP kami duga dilakukan oleh kelompok Joni Botak,” terang Paulus di Timika, melansir dari kompas.com (13/01), 2020.

Hingga kini, Polisi bersama TNI masih melakukan pengejaran pada pembuat onar tersebut.

Baca Juga: Hotel Steenkool, Hotel Tertua di Teluk Bintuni

Ada Apa dengan Krisis Eksistensi dan Kelompok Kekerasan Bersenjata?

Irjen Paulus Waterpauw mengatakan bahwa pelaku merupakan pemuda tanpa pekerjaan tetap yang sedang mencari pengakuan. Pernyataan tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan. Mengapa mereka mencari pengakuan melalui tindak kejahatan? Apa yang hendak diraih dari tindakan kekerasan?

Krisis eksistensi dalam kaitannya dengan KKB tidak bisa disamakan dengan krisis pada remaja yang doyan tawuran. Meski ada persamaan di sana, yakni menunjukkan kemampuan dan kekuatan sebuah kelompok, namun aktivitas KKB terlihat memiliki tujuan yang lebih dari sekadar eksistensi kelompok saja, melainkan mencari ladang yang lebih besar seperti pengakuan dari kelompok separatis. Hal ini pernah disinggung oleh AM Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara.

“Kita masih saja menganggap mereka KKB kelompok kriminal bersenjata. Bukan. Mereka ini adalah pemberontak. Masalah ini bukan kriminal saja,” ungkap dia dalam sebuah kesempatan.

Sebuah kelompok terbentuk atas sebuah kesamaan. Begitu pula KKB. Ini dijelaskan dalam buku Teori Sosiologi Klasik dan Modern karya Doyle Paul Johnson tahun 1994, bahwa solidaritas merujuk pada suatu hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasari atas persamaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama, atau pengalaman emosional bersama.

Untuk tetap eksis, maka mereka membutuhkan pengakuan dari pihak yang lebih mapan. Pengakuan tersebut mampu memperkuat posisi kelompok tersebut, baik dalam hal eksistensi dan ideologi mereka. Itu sebabnya, kelompok kecil yang melakukan tindak kekerasan tak dapat dibiarkan begitu saja.

Selain pengakuan, apa yang mereka cari melalui tindak kekerasan? Whittaker dalam bukunya yang berjudul Terrorism: Understanding the Global Threat mengungkapkan alasan utama sebuah kelompok gencar melakukan serangan dan kekerasan. Terlepas dari status teroris atau KKB, kelompok yang menyebar teror melalui tindak kekerasan, berupaya untuk menyampaikan sebuah pesan yang dianggap oleh kelompok tersebut benar. Baik itu pesan politis atau ideologis.