Kronologi Singkat dan Dampak Perang Antara Rusia dan Ukraina Bagi Dunia
beritapapua.id - Ilustrasi Ukraina vs Rusia. (Foto: CNBC Indonesia)

Sudah lebih dari sepekan sejak Rusia dan Ukraina berperang dan masih berlangsung hingga sekarang ini. Negosiasi damai terus diupayakan oleh kedua negara, namun titik terang belum juga kelihatan dan gencatan senjata belum juga terjadi.

Sebelum kejadian baru-baru ini, pada tahun 2014 hubungan antara Rusia dan Ukraina memang sempat memanas. Pada saat itu muncul revolusi menentang supremasi Rusia. Massa anti pemerintah berhasil melengserkan mantan presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych.

Kerusuhan juga sempat terjadi sebelum mereka berdamai di tahun 2015 dan membuat kesepakatan Minsk. Revolusi itulah yang membuat Ukraina berkeinginan untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE) dan NATO.

Baca Juga: Wali Kota Jayapura Akui Adanya Keterbatasan Dalam Pembenahan Damkar

Hal tersebut membuat Putin marah karena prospek berdirinya pangkalan NATO di sebelah perbatasannya. Hal ini juga didukung semakin eratnya hubungan sejumlah negara Eropa Timur dengan NATO. Hingga akhirnya Rusia kehilangan kesabaran dan menyerang Ukraina karena lebih cenderung dekat ke Barat dan ingin menjadi bagian Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Ukraina merasa bahwa ketika mereka menjadi anggota NATO, itu akan secara signifikan meningkatkan dukungan militer Ukraina dari pihak luar, meskipun hal tersebut memberikan kemungkinan NATO melancarkan kegiatan militer di Ukraina atau atas nama Ukraina, yang pasti tak disukai Rusia.

Dampak Perang Antara Rusia dan Ukraina Bagi Dunia

Salah satu dampak yang paling terlihat jelas adalah kenaikan harga minyak bumi dunia. Pada tanggal 3 Maret 2022, tercatat harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan tertinggi berdasarkan grafik yang diambil dari website Oilprice.com. Kenaikan tersebut mencapai US$119.66 di jam 3.48 PM WIB. Namun pada tanggal 4 Maret 2022, pukul 4.54 PM WIB, minyak mentah jenis Brent mengalami penurunan harga hingga US$111.6. Kenaikan tersebut diikuti dengan kenaikan minyak mentah jenis WTI.

Amerika sendiri harus menunda pengiriman penjelajah ke Mars karena sedang memberikan sanksi kepada Rusia. Hal itu dikarenakan penjelajahan tersebut menggunakan roket Soyuz dikembangkan oleh OKB-1, dan diproduksi oleh TsKB-Progress di Samara, Rusia.