Kutukan Kota Agats
beritapapua.id - Kutukan Kota Agats - registarapa.blogspot.com

“Kota Agats dimana seluruh bangunannya berdiri di atas papan kayu. Konon, tanah basah dan berlumpur itu adalah kutukan.”

Di selatan Papua, tepatnya dekat wilayah pesisir, terdapat sebuah kota dengan arsitektur yang tak biasa. Kala menyambangi wilayah itu, maka pengunjung akan disambut oleh beragam bangunan yang berdiri di atas papan kayu. Mereka tak mengapung di atas air layaknya permukiman yang berdiri di atas kali, melainkan mereka mengapun di atas tanah. Tanah yang basah nan berair, dan berlumpur.

Konon, menurut kisah yang beredar di kalangan masyarakat Kota Agats, tanah basah dan lumpur yang menghantui kota itu berasal dari kutukan seorang Pastor Belanda yang pernah bertugas di sana. Jan Smith merupakan nama dari pastor itu. Dahulu, Jan Smith berupaya untuk menyebarkan agama Kristen di wilayah Agats, namun perjalanannya dalam menyebarkan ajarannya tak berjalan mulus. Warga kerap memegang kepercayaan adatnya hingga Jan Smith akhirnya diketahui meninggal tanpa sebab yang jelas.

Hingga saat ini, belum diketahui sebab kematian Jan Smith. Namun, sejumlah masyarakat percaya bahwa tanah basah dan lumpur yang tak kunjung hilang adalah kutukan dari Jan Smith. Kutukan tersebut seakan diamini oleh seluruh warga dengan dibuatnya patung Pastor Jan Smith di pelabuhan kecil Kota Agats. Sebuah kota yang mengapung di atas lumpur.

Baca Juga: Kiprah Mama Asmat di Pesisir

Kondisi Geografis Kota Agats

Kondisi geografis tersebut membuat kota ini berbeda dengan kota lainnya. Sepintas, kota ini terlihat seperti jembatan besi yang dibangun di atasnya permukiman warga. Dahulu, bangunan tersebut berdiri di atas papan-papan kayu persis seperti permukiman di atas dermaga. Hanya saja mereka mengapung di atas lumpur dan bukan air. Seiring berjalannya perkembangan teknologi, pemugaran dilakukan untuk memperkuat fondasi kota tersebut dengan cara dibeton. Layaknya sebuah kota. Kota Jembatan ini memiliki fasilitas seperti kantor pemerintahan, rumah sakit, sekolah, kantor polisi, hingga toko retail yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.

Salah satu masalah terbesar dari tanah yang berlumpur ialah ketersediaan air bersih. Lumpur yang bercampur dengan tanah membuah persediaan air bersih sulit diperoleh oleh masyarakat Asmat yang mediami Kota Jembatan itu. Salah satu cara untuk beradaptasi, warga harus mempersiapkan alat penampung hujan untuk menyimpan air.

Meski memiliki sejumlah keterbatasan, namun Agats menjadi tonggak kehidupan suku Asmat di Papua. Kota ini menyajikan beragam kebudayaan Asmat baik dalam hal interaksi sosial hingga museum Asmat yang berdiri di sana. Tak heran jika Kota ini menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Kota ini mengajarkan kegigihan warga Asmat dalam menghadapi ‘kutukan’ yang menerpa mereka. Namun agaknya, kutukan tersebut dapat dimaknai berbeda.