Lagi Corona, Kok Mudik Lebaran?
beritapapua.id - Ilustrasi Dilarang Mudik - Istimewa

Lagi Corona, Kok Mudik Lebaran? – Pada Rapat Terbatas (Ratas) hari Selasa, 21/04/2020, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk melakukan pelarangan mudik untuk mencegah penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

“Pada rapat hari ini, saya ingin menyampaikan juga bahwa mudik semuanya akan kita larang,” kata Jokowi yang disampaikan dalam Ratas melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Kecewa? Tentu banyak yang kecewa. Tapi langkah ini diambil oleh pemerintah untuk menekan angka persebaran Covid-19. Terutama bagi warga atau penduduk dari zona merah yang sejatinya akan kembali ke daerah asalnya, yang mungkin memiliki akses maupun fasilitas medis yang minim.

Tapi apa perlu, mudik lebaran itu menjadi suatu hal yang mandatory kita lakukan saban tahun, untuk merayakan hari kemenangan? Padahal mudik itu merupakan fenomena yang tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Idul Fitri, dan sudah dilakukan sejak zaman majapahit dengan makna yang berbeda pula.

Baca Juga: Setan Merah yang ‘Gentayangan’ di Danau Sentani

Asal Kata Mudik

Lagi Corona, Kok Mudik Lebaran?
beritapapua.id – Lagi Corona, Kok Mudik Lebaran?

Mudik, yang dalam bahasa Jawa Ngoko merupakan abreviasi dari “Mulih Disik” yang berarti pulang dulu. Konon tradisinya petani-petani jawa sejenak pulang untuk bersih makam atau mengunjungi keluarga pada satu waktu, tanpa terkait dengan referensi perayaan apapun.

Secara etimologi, kata “Mudik” mempunyai versi yang berbeda-beda. Kebiasaan para petani zaman Batavia (Jakarta) yang kembali ke “udik” (kampung atau desa) merupakan salah satu acuan kenapa istilah ini dipergunakan. Mudik yang berarti menjadi udik (lagi) ketika kembali ke daerah asal dari Jakarta.

Tren mudik lebaran sebenarnya baru muncul pada tahun 70’an. Awal mula urbanisasi, dimana Jakarta merupakan kota atau daerah tujuan para pencari nafkah. Pesatnya perkembangan kota yang seolah dengan daya magisnya memberikan harapan “perubahan nasib”.

Mudik Mulai menjadi Tradisi

Boomingnya pekerja-pekerja sebagai kaum urbanis dadakan ke Jakarta ini yang kemudian melahirkan fenomena “Mudik Lebaran”. Para perantau yang memanfaatkan momen libur panjang Idul Fitri untuk pulang ke daerah asal untuk sejenak melepaskan letih dari rutinitas yang dijalani selama setahun.

Fenomena yang lama kelamaan menjadi tradisi ini kemudian diamplifikasi oleh media dengan tayangan-tayangan maupun siaran yang berupa iklan serta program pemerintah yang meromantisasi mudik lebaran. Sehingga hal ini seolah menjadi sebuah keharusan.

Dalam perjalanannya, Mudik Lebaran telah menjadi eksodus rutin dengan segala permasalahannya. Kebiasaan untuk melirik sejenak sanak keluarga atau bersih makam, seakan menjadi ajang mencari validasi dari sanak dan kerabat di daerah asalnya perihal keberhasilannya di kota yang seolah butuh untuk dikukuhkan eksistensinya oleh orang sekitar, di kampung halamannya.

Makna yang terkandung dalam mudik sendiri tidak harus dilakukan hanya pada saat Lebaran saja. Banyak momen-momen lain yang bisa kita sikapi sebagai mudik. Apalagi di tengah pandemi covid-19. Akan lebih menimbulkan banyak mudharatnya jika dengan memaksa mudik akan menjadi potensi penyebaran virus bagi orang-orang yang kita cintai.

Merayakan hari kemenangan tanpa harus mudik, tidak akan menghilangkan makna dari Idul Fitri itu sendiri. Menunjukkan kasih sayang kepada sanak saudara dan kerabat di kampung halaman dengan tidak pulang dan menjaga jarak sudah merupakan ejawantah dari apa itu cinta kasih. Itu juga salah satu makna kemenangan kita melawan hawa nafsu dan ego untuk mudik.

Aku ra mudik, yo ra popo.