Lapas Perempuan Kelas III Jayapura Telah Melebihi Kapasitas
beritapapua.id - Ilustrasi narapidana di penjara. (Foto: Unsplash)

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Jayapura, Sarlota Haay, SH., MH mengatakan jumlah terpidana lapas khusus perempuan telah melebihi kapasitas.

Untuk itu, pihaknya saat ini sedang merencanakan blok hunian baru berkapasitas 100 orang di Arso, ibu kota Kabupaten Keerom, Papua.

Haay menyampaikan lapas perempuan hanya memiliki satu blok hunian yang hanya mampu menampung 24 warga binaan. Sedangkan warga binaan saat ini sudah mencapai 54 orang. Artinya ada kelebihan 20 orang.

“Lapas perempuan sudah melebihi kapasitas. Kami hanya punya satu blok hunian dan satu gedung workshop atau pelatihan,” katanya.

Haay menyatakan sebagian terpidana di Lapas Perempuan Jayapura kini menempati workshop, karena tidak tertampung di blok hunian.

“Layaklah kami membelikan mereka kasur. Kami sekarang program penambahan untuk blok hunian 100 orang,” ujarnya.

Ia juga mengatakan 54 warga binaan terjerat beragam kejahatan, seperti kasus narkotika, kriminal umum dan tindak pidana korupsi. Ia mengatakan setiap terpidana di Lapas Perempuan Jayapura menjalani pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.

Kegiatan Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian

Menurut Haay, pembinaan kepribadian lebih fokus pada kunjungan kasih, pelayanan-pelayanan dari gereja-gereja bekerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Keerom.

Sedangkan, pembinaan kemandirian lebih berfokus kepada peningkatan keterampilan warga binaan dengan membuat kegiatan menjahit, pelatihan membuat barang kerajinan seperti noken, atau membuat keripik pisan.

“Kalau kemandirian, bekerjasama dengan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Keerom, sudah berjalan dua tahun,” katanya.

Baca Juga: Jelang Peparpeprov, NPC Papua Sudah Mempersiapkan Atletnya

Haay menyampaikan barang kerajinan buatan warga binaan itu ditawarkan kepada para pengunjung yang datang ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Jayapura.

Produk makanan seperti pisang dipasarkan melalui kerja sama dengan pihak ketiga seperti Bank Mandiri maupun Bank Syariah Mandiri.

Haay mengatakan sebagian hasil penjualan barang buatan warga binaan disetor ke kas negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak. Sebagian lainnya untuk membantu pelaku usaka kecil dan menengah yang ada di sekitar Kabupaten Keerom.

“Tahun ini kami berbagi dengan mama-mama yang minuman, membelikan blender untuk mereka. Itu biasanya dilakukan saat hari besar memperingati kemerdekaan dan hari permasyarakatan,” ujarnya.

Haay berharap setelah kembali ke masyarakat, warga binaan Lembaga Permasyarakatan Perempuan Kelas III Jayapura dapat menggunakan berbagai keterampilannya.

Ia juga yakin warga binaan tersebut tidak akan mengulangin kejahatan mereka. Untuk itu ia berharap masyarakay dapat menerima kembali warga binaan yang telah menyelesaikan hukumannya.

“Setelah mereka keluar, harap masyarakat jangan mengintimidasi. Mari terima mereka dengan skill mereka. Biarkan mereka bekerja menghidupi keluarga mereka, dan bertanggunggung jawab atas dirinya,” katanya.