Larangan Bertato, Stigma yang Menjadi Aturan Tak Baku
Larangan Bertato, Stigma yang Menjadi Aturan Tak Baku

Larangan Bertato, Stigma yang Menjadi Aturan Tak Baku – Bagi seseorang yang bertato, ruang lingkup pekerjaan yang bisa digelutinya sangatlah kecil. Syarat penerimaan pegawai, apalagi pegawai pemerintahan atau Aparatur Sipil Nasional (ASN) hampir selalu mencamtukam pelarangan calon yang mempunyai tato atau bertindik. Ini persyaratan lama.

Menghapus Larangan Bertato

Kini beberapa kementerian dan instansinya sudah menghapus larangan bertato dalam persyaratan penerimaan calon pengawai negeri sipil. Namun stigma itu masih melekat. Stigma orang bertato sebagai ‘kriminal atau pemberontak’ hingga kini masih ditemui di berbagai instansi, kecuali industri seni dan media.

Dalam peraturan perundangan, tidak ada yang menyebutkan pelarangan bertato bagi pegawai pemerintahan secara eksplisit. Analogi pegawai negeri tidak boleh bertato ini muncul sebagai bagian dari kebersihan dan kesehatan tubuh. Selain itu, tidak ada aturan yang spesifik mengatur hal ini, selain stigma yang dimaklumkan sebagai aturan yang tak baku.

Stereotip tato merupakan kriminal dan manusia-manusia pemberontak, merupakan warisan orde baru yang digaungkan Soeharto untuk mengidentifikasi sasaran pembunuhan. Pemberantasan preman dan kriminalitas dengan Petrus (Penembakan Misterius), salah satunya adalah dengan menyasar orang-orang bertato.

Tato, Geng, Krimilitas dan Maknanya

Baca juga: Cara Membuat Tengkleng Solo dan Rekomendasi Warung di Solo

Tato memang pernah dan masih menjadi penanda atau identifikasi kelompok-kelompok kriminal dan geng yang kerap membuat onar. Misalnya di Amerika Serikat (AS), seperti yang dilansir dari BBC.Com, sebuah geng kriminal yang kejam yang bernama MS-13, menandai keanggotaan mereka dengan tato besar yang melintang sepanjang dada.

Geng yang diperkirakan mempunyai 10.000 orang anggota ini tersebar di hampir keseluruhan negara bagian di AS. Tato besar di dada mereka, ditandakan sebagai kontrak mati untuk mengabdikan keseluruhan hidupnya untuk keberlangsungan geng ini. Tidak ada kata berhenti, hanya kematianlah yang membuat seorang anggota bisa keluar dari aktivitas kriminal geng ini.

Bukan hanya geng kriminal saja yang menandai diri mereka dengan tato sebagai identitas yang melekat. Salah satu organisasi kriminal terbesar di dunia dari Jepang, Yakuza pun menandai diri mereka dengan tato di sekujur tubuh.

Tato yang masih menggunakan metoda kuno dari zaman Samurai, para Yakuza menato diri mereka untuk melambangkan keberanian serta kesetiaan pada organisasi tempat mereka bernaung. Semakin banyak tato yang dirajah pada diri seorang Yakuza, semakin banyak uang dan kekuasaan yang mereka miliki.

Budaya dan Seni

Baca juga: Kebaikan Ibu Bumi yang Menjadi Teladan Masyarakat Papua

Namun, itu sisi lain dari makna sebuah perajahan tubuh. Dalam budaya Indonesia, merajah tubuh merupakan bagian dari tradisi. Hingga kini, beberapa daerah di Indonesia masih merajah diri mereka sebagai penanda bagian dari budaya. Mentawai dan Dayak, misalnya.

Bahkan teknik merajah Mentawai, kini diadopsi menjadi teknik merajah yang cukup populer di kalangan tato dan seni internasional. Tato kini sudah bukan lagi sebagai bagian dari stigma kriminal seperti warisan orde baru. Tato adalah bagian dari ekspresi seni seseorang. Warisan yang diadopsi pada zaman modern, untuk mengungkap jati diri melalui budaya perajahan.