Larangan Perjalanan ke China Picu Penurunan Harga Minyak Dunia
beritapapua.id - Ilustrasi harga minyak dunia. (Foto: Reuters)

Setelah mengalami lonjakan harga hingga mencapai lebih dari US$132 per barel, kini minyak dunia mengalami pemerosotan harga hingga 6.55 persen. Melansir dari website Oil Price, minyak mentah jenis brent mengalami penurunan harga hingga menyentuh angka US$99.90 per barelnya pada tanggal 16 Maret 2022, pukul 00.46 WIB. Sedangkan minyak mentah jenis WTI mengalami penurunan hingga 6.60 persen di waktu yang sama, sehingga menjadi US$ 96.21 per barelnya.

Tren harga minyak dunia masih menunjukkan penurunan, terutama ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan bahwa negaranya akan terus memenuhi kewajiban kontraknya pada pasokan energi.

Melansir dari Republika, Minyak berjangka Brent untuk pengiriman Mei anjlok US$5,77 atau 5,1 persen, menjadi menetap di US$106,90/barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April jatuh US$6,32 atau 5,8 persen, menjadi ditutup pada US$103,01/barel.

Baca Juga: Intelektual Muda Papua Minta Kepala Daerah Fokus Melayani Masyarakat

Angka tersebut merupakan penutupan terendah untuk minyak mentah jenis WTI sejak 28 Februari dan terendah untuk minyak mentah jenis Brent sejak 1 Maret. Penurunan harga minyak ini terjadi karena Amerika meminta produsen-produsen minyak untuk meningkatkan hasil produksinya. Namun selain itu, ternyata ada faktor lain yang mendorong penurunan harga minyak dunia, mulai dari negosiasi damai mengenai konflik Rusia dan Ukraina, hingga larangan perjalanan ke China.

Apa hubungan Harga Minyak Dunia dengan China?

Harga minyak jatuh lebih dari lima persen ke level terendah dalam hampir dua pekan pada akhir perdagangan. Kejatuhan harga ini menjadi parah sejak ada larangan perjalanan terkait pandemi di China.

Mengutip dari Republika, Analis di kelompok konsultan energi EBW Analytics mencatat bahwa “wabah Covid-19 baru di China menyebabkan meningkatnya penutupan karena Omicron menyebar dengan cepat”.

Hal tersebut dapat mengurangi permintaan energi global karena China merupakan importir minyak, gas alam cair, dan batu bara terbesar di dunia. Sebuah provinsi di Timur laut China memberlakukan larangan perjalanan yang langka karena wabah Omicron.