Lembah Baliem Wamena
Beritapapua.id - Wamena Gerbang Menuju Lembah Baliem

‘Eye…., eye…, eye… Ap molah! Ap molah!’ Teriak gadis-gadis Wamena itu. -Kisah dari Lembah Baliem.

Lembah Baliem dan Wamena. Dua nama yang tak terpisahkan. Terletak di Pegunungan Jayawijaya, Lembah Baliem santer dibicarakan. Melalui kisah Lembah Baliem, namanya kini populer di hingga luar Tanah Papua. Kutipan di atas merupakan salah satu adegan paling populer dalam kisah itu. Salah satu aktornya ialah Ap molah. Siapa dia?

Kisah di Lembah Baliem Wamena

Sarat akan nilai luhur dan kearifan budayanya, suku Dani mendiami lembah itu. Sekitar 27 km dari Wamena, tanah itu menyuarakan kearifan melalui kisah-kisahnya. Namun kisah tak selalu sama dengan judul. Bentuk, tak selalu merepresentasikan isi. Salah satunya yang mendunia ialah asal-usul nama Wamena.

Wamena, merupakan wilayah yang dihiasi keindahan Sungai Baliem. Konon, dahulu kala, gadis-gadis Wamena menggunakan sungai itu untuk mandi. Tatkala seorang nan jauh dari Tanah Papua tiba di sungai itu, tanpa sengaja ia melihat para gadis Wamena itu sedang mandi. ‘Eye…., eye…, eye… Ap molah! Ap molah!’ Teriak gadis-gadis itu.

Baca juga: Melihat Papua dari Mata Sang Sutradara

Ap molah – sebutan warga setempat untuk orang kulit putih, kemudian bertanya pada gadis itu, ‘hoe het dit plek?’ yang artinya, ‘apa nama tempat ini?’ Sebelum sempat gadis itu menjawab, seekor babi melintas. ‘Wamena!’ ujar gadis itu. Ap molah tak tau, Wamena itu sebutan untuk anak babi. Dengan paras nanar, si kulit putih hanya mengangguk. Begitu kurang lebih penggambarannya.

Mengacu pada kisah seorang peneliti dari Balai Arkeolog Papua, Hari Suroto, yang santer di dunia maya melalui media online, kisah ini sampai ke seluruh penjuru Nusantara. Namun, perlu diketahui bahwa dahulu, Wamena tidak bernama seperti itu. Hari menjelaskan dalam kisahnya bahwa Ahgamua merupakan nama awal dari wilayah yang bernama Wamena itu. Ahgamua sendiri merupakan lembah luas nan indah yang dialiri sungai Baliem. Tak seperti Wamena, yang berasa dari kata ‘wam’ yang berati anak dan ‘ena’ yang memiliki arti babi.

Mengetahui asal usul nama Kota yang dialiri Sungai Baliem itu, tentu tidak sebanding dengan kearifan lokal yang ditawarkan oleh masyarakatnya. Khususnya dalam festival Lembah Baliem yang mendunia. Ini cocok dengan peribahasa ‘don’t judge a book by it’s cover’ atau dalam konteks ini, bukan cover-nya, melainkan namanya. Apalah arti sebuah nama?