Linkin Park Somasi Donald Trump Perihal Lagu ‘In The End’
beritapapua.id - Linkin Park Somasi Donald Trump Perihal Lagu ‘In The End’ - Independent

Di tengah kampanyenya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dapat somasi dari Band Rock Linkin Park. Diketahui Direktur Media Sosial Gedung Putih dan Scavino, tanpa izin mengunggah video Donald Trump dengan menggunakan lagu In The End. Perusahaan manajemen Linkin Park telah mengajukan pemberitahuan penghapusan ke Digital Millennium Copyright Act.

Pada 2016 silam, mendiang pentolan grup musik Linkin Park, Chester Bennington, pernah mengungkapkan ketidaksukaannya pada Donald Trump. Hal ini disampaikannya melalui kicauan di akun Twitter-nya. Chester begitu jelas menyatakan dukungannya terhadap capres Partai Demokrat Hillary Clinton.

“Pilih sekarang dan pertahankan Amerika yang luar biasa, Hillary untuk Presiden,” tulis Chester dalam akunnya di media sosial Twitter pada 9 November 2016

Ini bukan kali pertama Donald Trump dilarang untuk menggunakan karya musisi. Sebelumnya, presiden kontroversial itu telah dilarang oleh Neil Young, Dexys Midnight Runners, Panic! At the Disco dan Rolling Stones untuk tidak menggunakan karya mereka. Dan bukan kali pertama pula bagi Twitter untuk menghapus konten dan menonaktifkan kicauan Donald Trump.

Baca Juga: Cita Rasa Olahan Camilan Khas Papua

Media Sosial Kompak Hapus Video Kampanye Trump

Media sosial Facebook, Twitter dan Instagram kompak menghapus video yang diunggah tim kampanye Donald Trump. Karena di platform masing-masing telah menerima komplain terkait video yang di unggah Trump. Video dengan durasi 4 menit tersebut menampilkan gambar dari mendiang George Flyod yang meninggal dan memicu protes kekerasan di seluruh negeri.

Sementara itu Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Condoleezza Rice mendesak Trump untuk berhenti sejenak dari Twitter dan fokus pada penanganan aksi protes yang dilakukan oleh rakyatnya. Trump juga di sarankan untuk lebih berfokus pada dialog dengan rakyat Amerika Serikat daripada menyampaikan pendapat di Twitter yang dapat menimbulkan perpecahan.

Disisi lain lawan politik Trump, Joe Biden dari Partai Demokrat, meminta Facebook dan Twitter menghapus unggahan Trump karena di nilai keliru dan memfitnah sistem pungutan suara lewat surat. Padahal sistem tersebut demi memfasilitasi para pemilih yang khawatir tertular virus, sehingga mereka dapat memberikan suaranya dari rumah.

“Tim kampanye kami telah mengirim surat ke Twitter dan Facebook meminta disinformasi ini, yang bertujuan merusak kepercayaan masyarakat terhadap proses pemilu kita, agar segera dihapus,” jelas Biden.