Lockdown Shanghai Turunkan Kembali Harga Minyak Dunia
beritapapua.id - Ilustrasi lockdown di Shangai. (Foto: Reuters)

Harga minyak mentah dunia masih terus berada pada harga yang tidak pasti. Beberapa hal mempengaruhi penurunan harga dan hal lain membuatnya kembali melonjak tinggi.

Setelah kembali menanjak hingga menyentuh angka US$121 per barelnya, harga minyak dunia jenis Brent kini kembali turun hingga US$117 per barelnya pada Senin, 28 Maret 2022, pukul 12.35 WIB. Pada hari dan waktu yang sama, minyak dunia jenis WTI berada di harga US$110.1 per barel.

Penurunan harga minyak dunia tersebut karena kebijakan lockdown di Shanghai akibat Covid-19 yang akan mempengaruhi permintaan bahan bakar minyak dari China, mengingat China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan konsumen terbesar ke-2 setelah Amerika Serikat.

Pemerintah China telah menyatakan akan menutup Shanghai yang merupakan pusat keuangan di Negeri Tirai Bambu tersebut, untuk melakukan pengujian Covid-19 secara massal.

Penutupan atau lockdown itu akan mulai dilakukan mulai dari daerah di sebelah timur Sungai Huangpu, yang mencakup distrik keuangan dan kawasan industrinya, mulai dari Senin, selama empat hari. Kemudian penutupan akan bergeser ke barat kota selama empat hari lagi.

Dampak Lain yang Menyebabkan Harga Minyak Turun

Pemberontak Houthi Yaman yang mengumumkan penghentian sementara terhadap permusuhannya dengan Arab Saudi, ikut mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Pada Sabtu kemarin, pemimpin pemberontak mengumumkan gencatan senjata tiga hari, setelah terus menyerang kerajaan selama seminggu.

Melansir dari kompas.com, Pemberontak tersebut sempat menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco di Yanbu pada pekan lalu, yang menyebabkan penurunan sementara produksi minyak dari Arab Saudi. Serangan ini juga sempat menjadi faktor naiknya harga minyak sempat naik pada pekan lalu.

Baca Juga: Kenaikan Harga Minyak Dunia Pengaruhi Harga Pertamax Indonesia

Harga minyak juga terpengaruhi oleh Amerika Serikat yang saat ini tengah berupaya menghidupkan kembali pembahasan mengenai nuklir dengan Iran, yang berkemungkinan tidak bisa mencapai kesepakatan dengan segera. Hal itu karnea Iran merupakan sekutu Rusia, dan perang di Ukraina juga memperumit negosiasi.

Padahal perundingan tersebut dapat mengarah pada pemberian keringanan sanksi atas produksi minyak Iran. Jika kesepakatan tercapai maka kemungkinan adanya tambahan pasokan minyak dari Iran di pasar global sehingga dapat menekan gejolak harga minyak.