Lonjakan Harga Minyak Dunia Kembali Terjadi
beritapapua.id - Ilustrasi industri minyak. (Foto: Thinkstock)

Harga minyak dunia kembali melonjak hingga 7% pada penutupan peragangan hari Senin kemarin, setelah sebelumnya turun hingga kurang lebih 98 USD/barel. Kenaikan tersebut karena negara-negara Uni Eropa yang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan melakukan embargo terhadap minyak Rusia.

Mengutip dari CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent naik 7,12 persen menjadi 115,62 USD/barrel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 7,09 persen menjadi 112,12USD/barrel.

Para pemimpin Uni Eropa tengah mempertimbangkan apakah negara-negara di kawasan tersebut akan memberlakukan embargo minyak terhadap Rusia. Oleh karena itu hal tersebut menjadi sanksi terhadap Presiden Vladimir Putin atas invasi ke Ukraina.

Mengutip dari Kompas, pekan ini para pemimpin Uni Eropa akan berkumpul dengan Presiden AS Joe Biden untuk memperkuat tanggapan Barat terhadap Moskow. Maka, rencana embargo minyak Rusia oleh Uni Eropa bisa saja dimulai pada pekan ini.

“Ini bisa menjadi jurang untuk masalah pasokan minyak global,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital LLC.

Embargo yang telah terencanakan oleh Uni Eropa ini akan mengganggu pasokan minyak global, mengingat Rusia sebagai pengekspor minyak dunia terbesar kedua, dengan konstribusi 7 persen dari total minyak global.

Serangan Pada Fasilitas Minyak Saudi Aramco

Selain embargo terhadap minyak Rusia, harga minyak dunia juga karena terjadi serangan pada fasilitas minyak Saudi Aramco di Yanbu oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran. Serangan tersebut menyebabkan penurunan sementara produksi minyak dari Arab Saudi. Pihak Arab Saudi pada Senin kemarin telah memperingatkan bahwa tidak akan bertanggung jawab atas gangguan pasokan minyak global menyusul adanya serangan terhadap fasilitas minyaknya tersebut.

Baca Juga: Pemkot Jayapura Anggarkan Dana Rp2,5 Miliar Untuk Covid-19 di Tahun 2022

Tidak sampai di situ saja, harga minyak dunia juga terpengaruh terhadap pembicaraan terkait Hong Kong yang berencana akan mencabut pembatasan terkait Covid-19. Pelonggaran tersebut dapat meningkatkan permintaan minyak di pasar global di tengah pasokannya yang terus mengetat, karena Hong Kong merupakan salah satu importir minyak terbesar.