Kondisi fisik sekretariat dan asrama Ikatan Pelajar Mahasiswa/mahasiswi dan masyarakat Distrik Pasema (IPM DP) dan Distrik Samenage (IPM DS) Yahukimo, di Kota Jayapura, memprihatinkan.

Asrama itu tanpa fasilitas tempat tidur. Sekitar 40 mahasiswa dan mahasiswinya tidur melantai, beralaskan terpal plastik. Kondisi bangunannya semi permanen, dan selalu terendam banjir kala hujan.

Lokasi asrama berpenghuni 40 mahasiswa dari Papua Pegunungan, provinsi baru di Papua ini, di level terendah di Kota Jayapura.

Lokasi asrama berada kawasan Organda, Kelurahan Padang Bulan, Distrik Hedam, Kota Jayapura, Provinsi Papua, sekitar 12 km dari pusat ibu kota provinsi induk.

Tidak ada tempat tidur, tanpa meja, dan furnitur laiknya asrama kebanyakan di Indonesia.

Ketua Badan Pengurus IPM DP dan IPM DS, Jemius Wetapo (Distrik Samenage) dan Henggius Giban (Distrik), berharap pemerintah pusat dan provinsi pemekaran baru, Papua Pegunungan memberi perhatian sekaligus bantuan.

“Hanya ada tiga ruangan, satu ruang rapat, dua kamar tidur untuk mahasiswa dan mahasiswi,” kata Henggius Giban, mahasiswa Uncen dari Distrik Paseman.

Selain tempat tinggal, asrama itu juga berfungsi sebagai sekretariat organisasi dua distrik, dan tempat pertemuan masyarakat Yahukimo pegunungan yang ada di Jayapura.

Di sebelah timur asrama ada Honai, rumah tradisional warga Papua Pegunungan. Asrama di Organda Padang Bulan, sudah 10 tahun. Sebelumnya, mahasiswa asal dua distrik pedalaman Papua ini di kawasan Tanah Hitam, Abepura

“Sekarang jadi tempat usaha pedagang, kita pindah di sini tahun 2010,” kata Amin Momiage, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua, dari Distrik Samenage.

Asrama ini tempat aktivitas dan koordinasi sekitar 130 mahasiswa. Penghuni asrama keseluruhan 40 orang. Ada delapan mahasiswi dan 32 mahasiswa. Sisanya, 90 mahasiswa tinggal di rumah kerabat, kos, atau sahabat di Jayapura.

“Kalau asrama penuhi, kita tidur di Honai,” kata Ketua Ikatan Mahasiswa/mahasiwi Distrik Saminage, Jemianus Wetapo, kepada Tribun-Papua.com.

Dikatakan, gedung asrama tersebut memiliki satu ruangan pertemuan. Luas total asrama itu bisa memuat dua lapangan tenis meja.

Ada dua kamar utama. Satu kamar untuk laki-laki dan satu kamar untuk perempuan. Di puncak masa kuliah atau ujian semester, atau momen Natal, asrama ini biasa penuh sesak.

Idelnya satu kamar dihuni 5-7 mahasiswa, namun kenyataanya bisa dampai 15 orang.
“Bahkan kadang kita tidur 20 orang di satu kamar,” kata Giban.

Selain dua kamar tidur untuk 40 orang, juga ada fasilitas dapur dan pantry. Ukurannya, setengah luas kamar tidur. Selama mereka tinggal di sana, aparat pemerintah belum pernah berkunjung ke asrama mereka.

Biaya listrik, dibayar dari urunan penghuni. Beberapa kali mereka ajukan proposal ke pemerintah kabupaten, provinsi dan distrik, namun jarang direspon.

“Kami minta kepada pemda perhatian kepada kami karena kami juga adalah aset kabupaten Yahukimo dan juga aset distrik Pasema Samenage dan juga provinsi Papua,” kata Jemianus Wetapo.

Mereka juga meminta perhatian dari para senior, kepala dinas, dan para filantrofis atau dermawan yang mau membantu.