Mahfud MD: Tidak Ada Dikriminasi Bagi Umat Islam
Kitapastibisa.id - Mahfud MD: Tidak Ada Dikriminasi Bagi Umat Islam - Daily News

Mahfud MD: Tidak Ada Dikriminasi Bagi Umat Islam – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut, tidak ada diskriminasi umat Islam di Indonesia. Mahfud mengatakan bahwa banyaknya muslim yang menjabat pada pemerintahan adalah bukti dari pernyataannya tersebut.

“Siapa yang bilang umat Islam kok didiskriminasi? Enggak ada (diskriminasi),” kata Mahfud saat menghadiri sarasehan yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Jawa Timur, disiarkan melalui YouTube Kemenko Polhukam, Minggu (4/10).

Mahfud pun mencontohkan bahwa Ia adalah seorang santri dan kini menjabat sebagai Menko Polhukam. Lalu, ia menyebut Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang juga merupakan seorang santriwati.

Ia pun kembali menambahkan bahwa masih banyak pejabat tinggi negara yang merupakan muslim yang taat, seperti Panglima TNI, Kapolri hingga Presiden RI, Jokowi.

Oleh karena itu, Mahfud mengatakan bahwa tidak ada yang menyudutkan umat muslim. Berbagai kebijakan pemerintahan pun tidak ada yang merupakan kebijakan anti-Islam.

“Jadi enggak ada di sini kebijakan anti-Islam, enggak ada. Tinggal saudara dan kita berjuang agar umat Islam itu mendapat porsi kemajuan yang proporsional,” ujarnya.

Baca Juga: KPU Manokwari Menetapkan Dua Palson Peserta Pilkada

Umat Islam Boleh Maju, Namun Bukan Islam Radikal

Mahfud menegaskan bahwa umat Islam Indonesia punya kesempatan untuk maju, namun bukan yang masuk dalam kategori Islam radikal.

“Umat Islam boleh maju, tetapi yang dikembangkan di dalam konsep kehidupan bernegara bagi umat Islam Indonesia adalah bukan Islam radikal,” kata Mahfud.

Mahfud mengatakan, pada era awal kemerdekaan umat Islam memang mengalami kemunduran. Menurut kabar yang beredar, kala itu, lulusan madrasah tak boleh jadi polisi, tentara, atau dokter. Namun, hal itu berubah sejak adanya aturan yang menyebutkan bahwa lulusan madrasah harus disamakan dengan lulusan sekolah umum.

Ia pun mengatakan bahwa tahun 70-an, sudah banyak santri yang menjadi dokter, sarjana hukum hingga insinyur. Pada era tersebut, para santri pun mulai duduk pada kursi pemerintahan. Lalu memasuki tahun 90-an, sudah banyak santri yang menyandang status sebagai pejabat tinggi. Dan ketika itulah, pada setiap kantor pemerintahan  terdapat masjid, pengajian hingga majelis taklim.