MAKI: Ada 4 Nama Terseret Kasus Djoko Tjandra
beritapapua.id - MAKI: Ada 4 Nama Terseret Kasus Djoko Tjandra - ERA.ID

Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) telah menyerahkan berkas berisi nama-nama saksi terkait kasus Djoko Tjandra ke Bareskrim Polri.

Empat nama tersebut diantaranya ialah:

Satu, Tommy Sumardi yang diduga terlibat dalam meminta Brigadir Jenderal Prasetijo Utomo untuk memperkenalkan dengan pejabat di Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri yang membawahi NCB Interpol Indonesia. NCB Interpol Indonesia kemudian memberitahu pihak imigrasi bahwa red notice Djoko Tjandra telah terhapus sejak 2014 dan tidak diperpanjang oleh Kejaksaan Agung. Informasi lainnya adalah bahwa Tommy mempunyai anak perempuan yang bertunangan dengan anak Nazib Razak (mantan PM Malaysia), dimana Nazib diduga berteman dengan Djoko Tjandra.

Dua, Viady yang diduga merupakan partner Djoko Tjandra dan ikut ke Pontianak bersama Djoko Tjandra pertengahan Juni lalu. Viady juga diduga terkait dengan izin mendirikan bangunan atau IMB Hotel Mulia Bali atas nama Viady, sebelumnya diduga merupakan atas nama Djoko Tjandra.

Tiga, Rahmat S, yang diduga punya kaitan dengan Anita Kolapaking, pengacara Djoko Tjandra. Rahmat bahkan disebut sebagai pihak yang mengajak Anita untuk menjadi pengacara Djoko. Rahmat juga sudah dua kali pergi ke Malaysia untuk menemui Djoko Tjandra. Dalam perjalanan pertama, Rahmat pergi bersama dengan Jaksa Pinangki. Sedangkan dalam perjalanan kedua, Rahmat pergi bersama dengan Jaksa Pinangki dan Anita.

Nama terakhir adalah Jaksa Pinangki yang sudah terbukti bertemu dengan Djoko Tjandra di Malaysia. Saat ini Jaksa Pinangki telah dicopot dari jabatannya.

Baca Juga: ICW: Dewan Pengawas Lamban

MAKI: Ada Aliran Dana Ke Jaksa Pinangki

Pelarian Djoko Tjandra yang melibatkan banyak pihak tentu memakan biaya yang cukup besar. Koordinator MAKI, Boyamin Saiman menduga bahwa ada aliran dana yang diterima Jaksa Pinangki Sirna Malasari. Boyamin menjelaskan dugaan aliran uang tersebut dapat dilihat dari bukti pembelian tiket penjualan luar negeri serta biaya akomodasi.

Di Indonesia Lawyer Club (ILC) mengatakan bahwa ada dugaan aliran dana tersebut mencapai nilai 500 ribu dollar Singapura atau setara Rp5 miliar.

Boyamin juga mengaku sudah melaporkan hal tersebut kepada Kejaksaan dan meminta agar laporannya bisa segera diproses.