Makna Kesepian Boven Digoel, Kamp Pengasingan Zaman Kolonial Papua
beritapapua.id - Makna Kesepian Boven Digoel, Kamp Pengasingan Zaman Kolonial Papua - Wikipedia

“Kesepian adalah hukuman. Konon, rasa kesepian menghantui generasi milenial yang lengang. Namun, kesepian memiliki makna lain di Boven Digoel. Di sana Pemerintah Kolonial mengisolasi tokoh nasional bersama malaria dan kesepian.”

Hulu Sungai Boven Digoel, Papua, menjadi saksi bisu pengasingan tokoh pergerakan nasional. Amukan kaum komunis tak terpelajar pada 12 November 1926 di Batavia mendorong pemerintah Kolonial untuk menyiapkan hukuman khusus bagi mereka. Bagi mereka, hukuman penjara tak cukup untuk meredam sebagian orang. Oleh karenanya, Raad van Nederlandsch-Indie (Dewan Hindia Belanda) memutuskan untuk membuat kamp pengasingan di Boven Digoel, Papua. Di sana, manusia tak hanya terasing. Namun malaria dan kesepian kian menghantui.

Kamp Seluas 10.000 hektare itu merupakan rawa yang diselimuti hutan lebat. Rombongan pertama yang menyambangi kamp itu mengalami masa yang sangat berat. Pasalnya, lokasi itu bukan permukiman kala mereka diasingkan. Dari 13.000 orang yang diasingkan, ratusan di antaranya meninggal akibat kelaparan dan sakit. Sejumlah penyakit menular menjangkit, salah satunya malaria. Sebagian lainnya mati tenggelam saat mencoba melarikan diri ke Australia.

Setelah menjadi tempat pengasingan bagi para pemberontak PKI pada tahun 1926, Kamp Digoel menjadi tempat pengasingan tokoh pergerakan nasional. Tokoh pergerakan yang pernah mendiami kamp Digoel antara lain Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, Chalid Salim, Lie Eng Hok, Muchtar Lutfi, dan Ilyas Ya’kub. Bahkan penggawa pergerakan Indonesia pun merasakan sakitnya kesepian di kamp pengasingan itu.

Baca Juga: Dukungan FPMSI Untuk Sukseskan PON XX 2020 Papua

Menyoal Kesepian Sebagai Hukuman

Siapapun yang menentang Belanda, maka Digoel adalah tempat bagi mereka. Meski banyak dari mereka yang dibuang di sana, Kamp Digoel membuktikan kedigdayaannya. Tak ada dari para pemberontak yang justru membangun pergerakan baru di sana, melainkan menyalahkan satu sama lain atas apa yang mendera mereka. Melansir tirto.id (27/03), 2016, hal sepele kerap menjadi perdebatan di antara mereka. Kegiatan sehari-hari tak mampu mengalahkan kesepian.

“Meski ada juga kegiatan-kegiatan olahraga untuk mengisi kesepian, tampak juga sikap guncangan jiwa mereka. Hampir selalu saja ada teman ayah yang datang berkunjung, hanya untuk berbincang-bincang tak menentu apa yang dibicarakan dari pagi sampai menjelang magrib. Dan itu amat sering dilakukan,” ungkap Urhen Lukman dalam bukunya Memoar Lukman, Seorang Pejuang Perintis Kemerdekaan RI (2012), disadur dari tirto.id.

Melansir dari mediaindonesia.com (31/10) 2017, kesepian berpotensi menyebabkan gangguan mental serius. Profesor psikologi University of Brigham Young University, Julianne Holt-Lunstad, mengatakan bahwa isolasi sosial meningkatkan risiko kematian 50 persen lebih besar dibandingkan dengan obesitas sebanyak 30 persen. Dalam penelitian lainnya, kesepian mampu mengurangi kemampuan kognitif sebesar 20 persen lebih cepat, risiko demensia pada orang berusia lanjut sebesar 64 persen, hingga risiko kematian dini hingga 45 persen.

Menjaga Kewarasan Kala Kesepian Menyerang

Kembali pada kisah pengasingan di Kamp Digoel, tak ayal apabila banyak dari mereka yang mencoba untuk tetap waras. Banyak dari mereka yang mencoba mengisi waktu mereka dengan hal-hal positif. Thomas Najoan, misalnya. Meski gagal dalam membangun sebuah perpustakaan ia tak menyerah dan akhirnya mengajar di sekolah yang didirikan orang-orang buangan. Lain halnya dengan Sultan Syahrir yang bermain dengan anak-anak sekitar atau berenang di Sungai Digoel sebagai pengalihan rasa kesepiannya. Bahkan melarikan diri pun menjadi pilihan dalam melawan kesepian.

Kamp Digoel menghadirkan kesepian sebagai sebuah hukuman bagi para pemberontak. Beda zaman, studi yang dilakukan akhir-akhir ini oleh George Mason, peneliti asal Amerika, mengungkap bahwa 1 di antara 3 orang berusia 25 tahun mengalami kesepian. Konteks boleh berbeda, namun dampak bisa saja sama. Konteks kesepian yang dialami saat ini memang bertolak belakang dengan konteks kesepian yang ada pada zaman pengasingan di Digoel. Menjaga kewarasan akibat gempuran kesepian menjadi momok yang tak hilang sejak lama. Tak bisa dibayangkan seperti apa nuansa kesepian yang hadir di Kamp Digoel.