Mama Hanny Penggerak Literasi Bagi Anak-Anak Kampung di Papua
Mama Hanny sedang presentasi via zoom meeting (foto : jubi.co.id)

Mama Hanny Penggerak Literasi Bagi Anak-Anak Kampung di Papua – Di teras berukuran kurang lebih 5 X 3 meter di rumah yang berada di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua Hanny Felle memanfaatkannya untuk mengajar anak-anak membaca dan menulis.

Rumah baca yang diberi nama “Onomi Niphi” yang artinya “jalan keselamatan” itu, terbuka untuk publik. Lokasinya dapat dikunjungi dengan menumpang perahu motor dari Dermaga Yahim, Sentani, Papua sekitar 20 menit.

Perempuan 49 tahun itu mengawali rumah baca dengan membuka kelompok belajar anak di Sentani, Kabupaten jayapura, Papua pada 2012. Waktu itu ia memanfaatkan balai adat atau Obbe Kampung Yoboi.

Ia mendirikan rumah baca tidak terlepas dari pengalamannya sebagai guru sekolah minggu di gerejanya di Kampung Yoboi. Ia menemukan masih banyak anak usia Sekolah Dasar yang belum mampu menulis dan membaca dengan baik.

“Mama berusaha menggerakan rumah baca dengan hati, dengan apa yang ada pada Mama, karena Mama peduli anak-anak yang tidak bisa menulis dan membaca,” ujarnya.

Sebelum memiliki fasilitas lengkap, Mama Hanny memanfaatkan daun sagu dan botol-botol bekas air minum. Bahan-bahan itu ia tulis dengan huruf dan angka, kemudian mengajarkanya kepada anak-anak.

“Kita juga ajarkan anak-anak cara putar papeda, kami masuk ke dusun ambil tanah untuk tanam sayur, bikin kebun gizi,” katanya.

Berbekal Pelatihan dari WVI, Mama Hanny Dirikan Rumah Baca

Setelah berjalan lima tahun, 2012-2017, dengan kelompok belajar anak, pada 2018 berbekal pelatihan yang ia peroleh dari Wahana Visi Indonesia (WVI), ia mendirikan rumah baca untuk mengembangkan literasi kelompok yang digagasnya.

Di rumah baca itu ia mendapat bantuan dari empat tenaga pengajar setiap Jumat dan Sabtu pada pukul 2 siang sampai 4 sore.

Anak-anak tidak hanya pembelajaran tentang membaca dan menulis, tetapi juga belajar nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Dan salah satu pembelajaran dalam kearifan lokal adalah ukiran-ukiran sentani, jenis-jenis sagu, dan jenis-jenis ikan Danau Sentani.

Setahun berjalan, pada Maret 2019 banjir bandang menerjang Sentani. Kampung Yoboi ikut terendam, termasuk rumah bacanya. Mama Hanny mengungsi bersama suami dan anak-anaknya ke Kehiran.

Baca Juga : Kemendikbud Gelar Workshop Bagi Para Kepala SMK di Papua

Selama enam bulan di pengungsian berbekal sisa buku-buku yang diselamatkan melalui perahu, Mama Hanny didukung oleh beberapa mitra dan sponsor melanjutkan aktivitas belajar literasi sambil bermain dengan anak-anak.

“Saya dulu bikin rak-rak petak biasa pakai susun buku, banjir bandang datang buku-buku terendam, waktu itu saya selamatkan buku rumah baca dulu ke kontainer dan taruh di perahu,” ujarnya.

Enam bulan di pengungsian ia kembali ke Kampung Yoboi menjalankan aktivitas rumah baca dari September hingga awal Desember. Lalu berhenti kerena memasuki masa Natal. Pada Januari 2021 kembali aktif sampai sekarang. Di tengah pandemi Covid-19 rumah bacanya tetap jalan dengan menerapkan protokol kesehatan.

Mengubah Tantangan Menjadi Kesempatan Sebagai Dorongan Lebih Maju

Mama Hanny terkadang mendapat tantangan dari masyarakat di lingkungannya karena ia perempuan. Namun ia menjadikan itu sebagai dorongan untuk lebih maju.

“Seperti bahasa bilang, perempuan saja baru dia siapa, bahasa-bahasa itu… tetapi saya tidak penduli dengan itu. Ko mau bicara-bicara saya jalan terus, kadang saya masuk ke kamar baru menangis baru saya bilang, Tuhan, saya punya perjuangan ini Tuhan tahu bahwaTuhan ada di pihak saya,” katanya.

Walaupun berhadapan dengan situasi yang begitu rumit, Mama Hanny mendapat bantuan dari sejumlah pihak, salah satunya Wahana Visi Indonesia (WVI), telah berhasil membuka 21 rumah baca di Kabupaten Jayapura, Papua.

Di antaranya di Distrik Kemtuk Gresik sebanyak 12 rumah baca. Kemudian masing-masing satu rumah baca di Kampung Yakasip, Anggahamong, Kehiran, Homwolo, Muris Kecil, Tabalasupa, Yahim, Komba, dan Yoboi.

Karena ketekunannya mengembangkan rumah baca ia kadang menjadi pembicara dalam forum nasional untuk pengembangan perpustakan desa.

Ia juga mendapatkan penghargan dari Polda Papua untuk kategori penggerak literasi. Juga menjadi juara umum untuk perpustakaan kampung dari Tabi mewakili Kabupaten Jayapura, Papua.

“Saya lihat begitu banyak orang datang, anak-anak dapat bantuan banyak, di situ saya bilang harus buka di tempat lain, mimpi saya itu terwujud, orang yang datang ke saya mengatakan, Mama buka kami rumah baca,” ujarnya.

Mama Hanny bertekad hingga 2022 sebanyak 139 kampung di Kabupaten Jayapura memiliki rumah baca. Ia berharap pemerintah membantu menyediakan fasilitas transportasi. Sebab menurutnya dengan membangun rumah baca akan sangat membantu dan menyelamatkan generasi muda, khsusnya anak-anak dari buta aksara.

“Seperti saya buka di Demta, Depapre saya fasilitas sendiri, saya butuh pemerintah bisa memfasilitasi saya kendaraan, misalnya motor atau mobil biar saya bisa jangkau kemana-mana,” katanya.