Sejuta Manfaat Pohon Sagu dari Papua
Beritapapua.id - Pemprov Papua Ajak Masyarakat Beralih Ke Sagu - pantaugambut.id

Hutan sagu di Papua terhampar luas, keladi melimpah ruah, petatas jadi primadona, hidup paripurna.

Mama bercocok tanam, memanen ubi dan keladi. Papa ke hutan mencari pohon sagu untuk dimakan, akar sagu untuk menata air, kayunya buat berkarya, daunnya untuk atap rumah, juga untuk mengobati. Alam menyediakan apa yang papa dan mama butuhkan. Papa pulang membawa sagu, mama siapkan ubi untuk papa makan. Ubi itu sehat, kaka. Ubi mengandung serat lebih tinggi dibanding nasi. Tapi, kaka, kami harus ber-migrasi. Dari sagu dan ubi, menjadi nasi.

Sepenggal kisah di atas menggambarkan kondisi kawan-kawan kita di Papua. Bagi mereka, ubi, petatas, dan sagu merupakan makanan pokok yang tiada dua. Sebagian orang mengatakan bahwa “belum makan namanya kalau belum makan nasi”. Bagi masyarakat Papua, ubi dan sagu menjadi sumber energi. Namun sayangnya akibat proyek pembangunan, lahan makanan itu mulai terkikis. Dilansir dari Papuanews, sekitar 2.800 hektar lahan direncanakan akan digunakan untuk pembangunan 2019 ini. Rakyat galau. Ketika lahan terkikis, maka nasi harus dikirim dari luar pulau.

Sagu, oh, sagu. Sebagian orang belum merasakan nikmatnya memakan sagu. Sepenggal kisah di atas menyampaikan ragam Manfaat Pohon Sagu. Sagunya dimakan, akarnya dapat menyimpan air, kayunya dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan, dan daunnya dijadikan atap rumah atau obat. Pantaslah makanan ini menjadi budaya masyarakat Tanah Papua. Mengganti sagu dengan nasi, sama saja membunuh budaya Irian Jaya.

Baca Juga: Menimang Babi di Pelukan Masyarakat Papua

Festival Sagu oleh Masyarakat Jayapura

Khui-khui mea-mea, Tuhan Mokhowoyea, meai wali pe Tuhan Mokhowoyea, binura yauda Tuhan mokhowoyea, meai wali pe Tuhanm Mokhowoyea.

            – Lagu yang dinyanyikan masyarakat Jayapura.

Masyarakat Jayapura kerap menyanyikan lagu itu kala festival sagu tiap 21 Juni. Lagu itu menggambarkan rasa syukur masyarakat atas limpahan karunia Tuhan dalam bentuk sumber daya alam yang melimpah ruah. Sungai mengalir deras, gunung menjulang tinggi, hutan rindang dengan segala hasil hutan untuk menunjang kehidupan. Kini, sagu menjadi salah satu yang dilindungi. Perda Provinsi Papua Nomor 3 Tahun 2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu dan Perda Provinsi Papua Nomor 27 Tahun 2013 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Pokok Berkelanjutan memperlihatkan status darurat sagu. Padahal papeda dibuat dari sagu. Rumah dibuat dari sagu. Mengapa perlu diganti oleh nasi?

Dari sebuah papeda kita belajar bahwa Manfaat Pohon Sagu bukanlah sekadar makanan pokok, namun juga budaya masyarakat Papua. Ragam manfaatnya tak hanya mengisi perut di kala lapar, tapi juga menjadi saksi peradaban Tanah Papua menua. Jika kau lihat papeda, maka kau lihat Papua. Pertanyaan sederhana yang muncul kemudian adalah:”Apakah bantuan berupa nasi adalah tepat?”