Mantan Tahanan Bupati Langkat: Kerangkeng Manusia Tempat Pencandu Narkoba
beritapapua.id - Para pekerja yang dikerangkeng di rumah Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin-angin. (dok. Polda Sumatra Utara)

Saat ini sedang terjadi maraknya kasus korupsi Bupati Langkat dan kerangkeng manusia yang berada di rumah kediaman Bupati Langkat tersebut. Keberadaan kerangkeng manusia di halaman belakang rumah Bupati Langkat Perangin Angin menuai sorotan. Kerangkeng itu dianggap sebagai tempat perbudakan pekerja sawit milik Terbit.

Namun, dalam tayangan video yang diunggah pada 27 Maret 2021 itu, Terbit menyebut bahwa kerangkeng manusia itu merupakan tempat pembinaan bagi pecandu narkoba.

“Tempat pembinaan yang saya buat selama ini untuk membina masyarakat yang penyalahgunaan narkoba. Tempat pembinaan,” kata Terbit dalam wawancara tersebut.

Salah satu Pengakuan mantan pasien yang pernah mendekam dalam kerangkeng itu buka suara. Dia adalah Muhrifan Afandi, warga Gang Sehati, Dusun Pelawi Seberang, Desa Pelawi Selatan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat.

Afandi membantah semua tudingan yang menyebut kerangkeng itu bak tempat budak pekerja sawit milik Terbit. Menurut dia, itu adalah lokasi buat para pecandu yang ingin sembuh.

“Jadi kabar yang mengatakan kalau di sana tempat perbudakan manusia modern, itu tidak benar. Saya yang tahu, karena saya mantan pasien di sana,” ujar Afandi, Selasa (25/1).

Afandi mendapatkan pembinaan secara gratis tanpa sedikitpun dipungut biaya.

“Di sana kami mendapatkan perlakuan yang layak, seperti mendapatkan makan 3 kali dalam sehari, kami dapatkan pelatihan mengaji, obat-obatan secara gratis, bahkan mendapatkan pekerjaan saat menjalani pembinaan,” terang Afandi.

Baca Juga: Jenderal TNI Andika Mensiapkan Strategi Penanganan di Papua

Tidak Masalah Jika Tidak Dibayar Asal Mendaptkan Fasilitas

Bagi pasien tidak ada masalah jika tidak dibayar asalkan mendapat fasilitas penyembuhan dari ketergantungan narkoba secara gratis. Kecuali, terhadap pasien yang sudah sembuh, kata Affandi, mereka yang bekerja pasti mendapat gaji.

Di tahun 2022 ini, dia dinyatakan sembuh dan dapat kembali pulang ke rumah untuk bersatu kembali bersama keluarganya. Dia juga ditawarkan bekerja sebagai pekerja sawit di pabrik milik Terbit.

“Jadi saya 4 tahun menjalani pembinaan di sana. Selama menjalani pembinaan itu, kami mendapatkan perlakuan yang layak dan baik,” kata dia.

“Saya mendapatkan tawaran kerja di sana usai saya dinyatakan sembuh. Saya berencana menerima tawaran tersebut usai melepas rindu dengan keluarga saya nanti,” lanjut Afandi.